Pemuas Istri Boss

Pemuas Istri Boss

Pemuas Istri Boss – Toni, seorang pria berusia pertengahan dua puluhan, baru saja kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studinya di luar negeri. Ia diterima di sebuah perusahaan investasi di ibu kota, di mana ia bekerja di bawah pimpinan Pak Hendra, seorang manajer proyek yang berusia awal tiga puluhan.

Awalnya, Toni mengira Pak Hendra adalah seorang gay karena gayanya yang lembut dan anggun. Namun, Pak Hendra ternyata sudah menikah dan memiliki istri yang cantik dan anggun bernama Aulia. Suatu hari, Pak Hendra mengajak Toni makan malam di rumahnya, dan di sana, Toni bertemu dengan Aulia.

Aulia, yang ternyata perokok berat, mengajak Toni menonton film di ruang keluarga. Selama menonton, Aulia terus menggoda Toni, membuat Toni merasa gelisah dan tertekan. Aulia kemudian mencium Toni, dan mereka berciuman dengan penuh nafsu.

Setelah menonton film, Aulia mengajak Toni ke kamar tidur utama. Di sana, Aulia memberikan Toni set lingerie hitam, dan memintanya untuk memakainya. Toni, yang awalnya gugup, akhirnya setuju dan mengenakan lingerie tersebut.

PORTALDEWASA – Aulia kemudian meraba tubuh Toni dengan lembut, meremas payudaranya dan menjilati putingnya. Toni merasakan gelombang kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia merasakan batangnya semakin tegang dan keras, menuntut perhatian.

Aulia kemudian mengajak Toni ke tempat tidur, dan mereka mulai berhubungan intim. Aulia merasakan batang Toni yang besar dan keras, dan memintanya untuk memasukkan batangnya ke dalam dirinya. Toni pun melakukan hal tersebut, dan mereka berdua merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Namun, hubungan terlarang antara Toni dan Aulia tidak berhenti di situ. Pak Hendra, yang ternyata tahu tentang hubungan mereka, justru memberikan lampu hijau kepada Toni untuk menyentuh istrinya. Toni, yang awalnya ragu, akhirnya setuju dan menjadi pemuas nafsu Aulia.

Namaku Virendra, biasa dipanggil Toni atau Dra saja. Usiaku saat itu sekitar pertengahan dua puluhan. Setelah menyelesaikan studi di sebuah universitas di luar negri, aku kembali ke tanah air untuk mencari pekerjaan.

Singkat cerita, aku diterima di sebuah perusahaan investasi di ibu kota. Di sana, aku bekerja dalam satu tim yang dipimpin oleh seorang manajer proyek, Pak Hendra. Beliau pria yang berusia awal tiga puluhan. Awalnya, aku mengira Pak Hendra adalah seorang gay, karena gayanya yang begitu lembut dan anggun, bak seorang putri.

Tak ada aura maskulin yang terpancar darinya. Cara berjalan, bicara, dan segala gesturnya terasa begitu feminin. Sepanjang aku bekerja di bawah bimbingannya, tak sekalipun ia mencoba menggoda atau melancarkan rayuan, dan lama kelamaan aku merasa nyaman. Berbeda dengan rasa was-was yang melanda saat pertama kali aku bekerja di sana.

Aku, jujur saja, bisa dibilang pria yang rupawan, hihihi. Jadi, pada suatu Jumat, seperti biasa, sebagai anak muda lajang, setelah pulang kerja, aku mampir ke kafe di bawah gedung kantorku. Pulang lebih awal pun percuma, toh tidak ada istri yang menungguku di rumah.

Saat asyik bermain ponsel, tiba-tiba aku disapa oleh Pak Hendra.

“Dra, sendirian saja?”

“Iya, Pak,” jawabku singkat.

“Bolehkah aku bergabung, Dra?” tanya Pak Hendra dengan nada lembut.

“Tentu saja, Pak. Silakan,” kataku. Hatiku berdebar tak karuan, tiba-tiba bosku mengajak ngopi bareng.

“Terima kasih, Dra. Kenapa kamu selalu sendirian, Dra? Mana teman-teman yang lain?”

“Ah, Pak, saya kan sendirian. Siapa sih yang mau nongkrong sama saya? Saya kan orang baru, belum punya teman dekat, hihihi,” jawabku sambil memaksakan senyum.

“Kamu belum punya pacar, Dra?”

Ah, sudah mulai menyinggung hal yang pribadi, batinku.

“Belum ada yang serius, Pak. Masih sebatas teman-teman biasa saja, hihihi,” jawabku sembari menyesap rokok Dunhill merahku.

“Mau, Pak? Rokok saya,” tawarku sambil menyodorkan bungkusan rokokku.

“Oh, Dra, aku tidak merokok merek itu. Aku merokok Salem,” kata Pak Hendra sembari mengeluarkan rokok dari saku kemeja bermerek mahalnya.

Pergh, Salem! Benar-benar gayanya, batinku saat itu, hihihi.

Aku mengamati Pak Hendra menghisap rokok dengan gestur yang lembut dan anggun itu.

“Pak, tidak pulang?” tanyaku.

“Sebentar lagi, Dra. Tadi melihat kamu sendirian, jadi aku ingin menemanimu,” jawab Pak Hendra dengan nada halus.

“Rumah Pak di mana, Pak?” tanyaku penasaran.

“Rumahku di Sumbang Jaya, Dra.”

“Oh, jauh juga ya,” kataku.

“Sudah biasa bolak-balik, Dra, jadi sudah tidak terasa jauh lagi,” jawabnya santai.

“Ohhh, oke, Pak. Pak sudah menikah, Pak?”

“Oh, tentu saja, aku sudah menikah,” jawab Pak Hendra.

BACA JUGA : Portal Dewasa – Cara Menyetubuhi Ibu Kandung

Ternyata si gay juga punya istri, pikirku. Ya, siapa sih yang tidak mau dengan pria berpangkat, gaji besar, dan mobil Jerman? Tentu banyak wanita yang antri, kan?

“Wah, Bos sudah menikah? Saya kira…” Toni berucap, takjub mendengar kabar bahwa En Hendra, atasannya yang berpenampilan lembut dan selalu tampak ramah, ternyata sudah membina rumah tangga.

“You ingat saya ini banci ya Dra? Dra, walaupun saya begini, tapi saya tidak suka dengan lelaki. Saya ini lelaki normal yang terlahir lembut saja Dra, hihihi,” En Hendra menyela, nada bicaranya terdengar ringan, namun ada sedikit nada yang menyindir.

Toni langsung merasa bersalah, wajahnya memerah. “Oh, maafkan saya Bos. Saya sangka begitulah. Maafkan saya ya Bos.”

“Ah, tidak apa-apa Dra. Banyak yang berpikiran seperti itu,” balas En Hendra dengan senyum tipis yang menampakan lesung pipitnya, membuat Toni salah tingkah.

“Sudah lama ya, Bos menikah, Bos?” Toni melanjutkan obrolan, berusaha mencairkan suasana.

“Sudah lima tahun masuk tahun ini,” jawab En Hendra, sembari mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusannya dan menyalakannya dengan korek api yang ia ambil dari saku celananya.

“Oh, lama juga ya. Pasti istri Bos cantik sekali, kan?” Toni berusaha memancing obrolan, tatapannya tak lepas dari wajah En Hendra yang tampak sedikit sembap karena asap rokok.

“Mestilah cantik, kalau tidak cantik tidak sudi aku menikahinya Dra, hihihi!” En Hendra tertawa kecil, suaranya terdengar sedikit serak. Nafasnya yang berhembus keluar bersamakan asap rokoknya membuat Toni terkesima. Ada aura misterius yang terpancar dari bosnya itu, yang membuatnya semakin penasaran.

“Sudah berapa orang anak sudah Bos?” tanya Toni lagi, rasa penasarannya tak kunjung padam.

En Hendra terdiam sejenak, tatapannya mengarah ke suatu titik di kejauhan, entah apa yang dipikirkannya. Asap rokoknya mengepul, seolah mewakili kerumitan pikiran yang ada di benaknya.

“Aku belum ada rezeki lagi untuk memiliki anak, Dra,” jawab En Hendra, suaranya terdengar berat.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *