Ketagihan Dientot Anak Tiri
Cerita Sex Anak Tiri – Di usia empat puluh tahun, ia seharusnya sudah menemukan kedamaian, rumah besar, suami yang sibuk, dan status istri yang disegani. Tapi malam-malam sunyi itu justru membukakan pintu pada sesuatu yang tak pernah la bayangkan sebelumnya.
Tiga anak tiri lelakinya-tinggi berotot, penuh tenaga, dan masih dipenuhi api muda-mulai mengisi kekosongan yang selama ini ia pendam dalam-dalam… Awalnya hanya tatapan sekilas, sentuhan tak sengaja di dapur, hembusan napas yang terlalu dekat saat lewat di koridor gelap. Tapi lambat laun, batas itu runtuh.
Sekarang la ketagihan, Ketagihan pada kekuatan tangan mereka yang mengangkat tubuhnya dengan mudah, Ketagihan pada desahan kasar yang memanggilnya “Bu” dengan nada yang sama sekali tak sopan lagi. Ketagihan pada sensasi dikuasai tiga lelaki muda sekaligus, pergantian, bersama-sama, tanpa ampun sampai tubuhnya gemetar lemas dan pikirannya kosong.
la tahu ini salah, la tahu ini bisa menghancurkan segalanya. Tapi setiap kali pintu kamar tertutup dan lampu dimatikan, la tak lagi peduli Karena rasa ketagihan itu sudah lebih kuat daripada rasa bersalah. Dan malam ini… mereka akan datang lagi.
PortalDewasa – Malam itu, hampir pukul sembilan, Retno terperanjat ketika suaminya tiba-tiba pulang lebih cepat dari penugasan luar kota yang telah memisahkan mereka lebih dari seminggu. Wajah lelaki berusia 60 tahun itu memancarkan kegembiraan tak biasa, senyumnya seolah menyimpan sebuah cerita yang belum terucap.
“Ada apa, Mas? Senyum terus. aku jadi curiga, Iho,” ujar Retno sedikit manja.
“Ada kejutan yang tidak biasa, khusus buatmu,” balas suaminya, suaranya lembut sekaligus penuh rahasia.
Retno mengangkat alis, separuh heran, separuh gemas. “Kejutan apa sih, Mas?”
“Yang akan membuatmu bisa menyalurkan hasrat kerinduan dengan lebih baik, lebih tenang dan lebih dahsyat,” katanya sedikit mendesah, sebelum merangkul istrinya dalam pelukan hangat yang langsung menuntaskan sebagian rindu yang mengendap dengan menciuminya.
Mereka tertawa kecil, saling melepas jarak yang tertumpuk selama hari-hari terpisah itu. Setelah beberapa saat, suaminya menuntun Retno menuju kamar mereka. Setibanya di sana, ia mengeluarkan sesuatu dari tas besarnya. Sebuah benda, dibungkus rapi, diserahkan dengan gerak yang penuh pertimbangan.
Retno terpaku. Ada sesuatu dalam cara suaminya memandang, seakan ia sedang menawarkan lebih dari sekadar hadiah; sebuah kepercayaan, mungkin keberanian untuk membuka percakapan yang selama ini hanya berputar di benak mereka.
“Ini… apa, Mas?” tanyanya pelan.
“Khusus untukmu,” jawab suaminya singkat, namun lembut.
Retno menatap benda itu, lalu menatap suaminya, merasakan campuran haru, malu, dan kehangatan yang meluap bersamaan. la menangkap niat baik di balik hadiah itu. Sesuatu yang tidak perlu dijelaskan panjang-lebar, namun ia mengerti arti dan keberanian yang menyertainya.
“Mas… kenapa repot-repot beli yang beginian?” bisiknya, senyumnya muncul tanpa bisa ia tahan.
Suaminya hanya mengusap lembut punggung tangannya. “Papa ingin kamu bahagia. Sesederhana itu.”
“Ini dildo kan?” tanya Retno setengah tak sadar sekedar untuk memastikan.
“Yes!” jawab suaminya pelan sambil tetap terus menyodorkan benda itu, memaksa Retno untuk segera menerimanya.
Retno masih tertegun, tak menduga bahkan masih tak percaya, jika suaminya yang oleh sebagian orang dipanggil Pak Haji, bisa-bisanya memberi hadiah pada istrinya berupa benda yang tak biasa cenderung tak senonoh.
Dengan agak ragu-ragu, Retno pun lantas menerimanya dan ia rasakan teksturnya benar-benar sangat kenyal walau agak dingin. rudal imitasi itu ukurannya jauh lebih besar dan panjang jika dibandingkan dengan milik suaminya. Tentu saja kenyal dan kerasnya pun sangat beda.
“Ini buat apa sih, Mas?” tanya Retno pura-pura polos. Kulit wajahnya semakin terasa panas karena malu dengan kekurang ajaran tangannya yang secara tak sadar meremas-remas benda kenyal itu untuk sekadar merasakan tekstur dan kekenyalannya.
Suaminya tetap tersenyum, tidak menjawab pertanyaan istrinya, malah melepas pakaian Retno dengan sangat pelan hingga istrinya benar-benar telanjang bulat. Sementara suaminya tetap mengenakan pakaiannya. Retno lalu diminta rebahan di atas kasur sambil membuka lebar kedua kakinya. Hal yang tak pernah diminta suaminya sebelum ini.
Dengan lembut suaminya menyentuh area paling sensitifnya itu, membuat Retno tersentak kaget sekaligus penasaran. Sejak kapan suaminya berani mengeksplorasi bagian tubuh yang jarang dia sentuh? Namun, Retno menyerah pada gelombang kenikmatan lama yang hilang, memejamkan mata sambil menikmatinya sepenuh hati.
Setelah kelembapan alami muncul, suaminya perlahan memasukkan ujung kepala dildo itu berukuran besar dan panjang itu ke dalam diri istrinya, sekitar setengahnya.
“Maas…” desah Retno tertahan, tubuhnya menggeliat malu-malu karena sensasi yang begitu menggoda. Bentuknya yang gagah memenuhi setiap sudut dengan sempurna, bahkan menyentuh titik terdalam saat didorong masuk hampir seluruhnya.
“Gimana, nyaman dan nikmat kan, Sayang?” tanya suaminya sambil menariknya pelan lalu mendorong kembali. Retno hanya mengangguk kecil, rintihannya lirih karena pikiran campur aduk antara malu, kebingungan, dan gelora yang mendominasi.
Suaminya terus memainkan dildo itu dalam ritme halus, masuk lebih dalam, berputar lembut, lalu hampir keluar, membuat desahan Retno semakin nyaring, nyaris seperti jeritan saat gerakannya semakin intens.
“Coba kamu pegang sendiri,” bisik suaminya, menyerahkan kendali tanpa mencabutnya, sambil melepas pakaiannya sendiri.
Suaminya kembali mengambil alih, sambil mencium dan membelai payudaranya bergantian, serta membimbing tangan Retno ke kejantanan miliknya yang tegang, meski lebih mungil, lebih lembek dan ini sesuatu yang teramat baru bagi keduanya.
Saat Retno hampir mencapai puncak, suaminya cepat mengganti dildo itu dengan rudal aslinya. Sensasi berubah mendadak, ruang terasa lebih longgar, tapi gerakannya yang lincah dan penuh semangat segera membangkitkan kembali api yang cukup lama nyaris padam.
“Ooooo Maaas….” lenguh Retno tak tertahankan saat dalam hitungan berikutnya ia orgasme yang teramat dahsyat, diikuti ejakulasi suaminya dengan ledakan yang melimpah. Keringat membasahi seprai mereka, sesuatu yang pertama kalinya terjadi.
Napas mereka mereda, suaminya berbisik, “Sayang, nyaman dan nikmat kan? Kalau Mas tak di rumah dan kamu butuh, gunakan saja itu untuk memuaskan diri. Mas rela, asal jangan ke orang lain, itu haram.”
“Iya, Mas,” jawab Retno pelan, matanya sayu berat. “Nyaman kok,” tambahnya dengan anggukan saat dipeluk erat. Suaminya mencium pipi dan keningnya lembut.
“Tapi kenapa ukurannya sebesar itu? Kayaknya salah ukuran deh, Mas.” gumam Retno halus, sebenarnya ingin bilang agar disesuaikan dengan milik suaminya.
“Tidak salah, Sengaja Mas pilih yang lebih besar dan panjang, biar kamu merasakan sensasi luar biasa dan puas maksimal, terutama saat sendirian,” jawabnya yakin, tanpa ragu.
“Tapi kenapa Mas bisa punya pemikiran sejauh itu?” tanya Retno sambil menatap dalam kedua mata suaminya. Ada kilau aneh di sana, semacam semangat baru yang selama ini jarang tampak.
Baca Juga : Remot Kontrol Ajaib

Suaminya menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Mas juga bingung. Tapi ini sebenarnya berawal dari obrolan beberapa rekan. Mereka banyak yang memberikan dildo pada istrinya. Katanya supaya istri tidak merasa kesepian saat ditinggal suami. Biar rumah tangga mereka tetap aman.”
Retno mengernyit halus. “Memangnya mereka yakin istri-istrinya itu tidak menyimpang hanya karena diberi begituan? Atau malah mereka menuduh istrinya akan menyimpang kalau tidak diberi?”
“Ya, mungkin itu cara mereka mencari rasa aman, Sayang.” Suaminya mencoba terdengar meyakinkan, meski suaranya menyimpan ragu.
“Aku rasa itu cara berpikir yang terlalu jauh, Mas,” ujar Retno lembut. “Selama ini aku tidak pernah macam-macam walau tidak punya apa pun, kecuali kamu.”
Suaminya mengangguk pelan. “Mas tahu. Tapi juga banyak dengar kalau masalah rumah tangga muncul karena kebutuhan batin tidak terpenuhi. Mas merasa sering tidak maksimal karena sering tugas keluar kota. Jadi cuma… ikut cara mereka. Supaya kamu tetap merasa dicintai.”
Retno menatapnya lebih lama. “Lalu Mas sendiri kalau lagi dinas gimana? Apa tidak pernah goyah untuk mencari wanita lain?”
Suaminya terkesiap kecil. “Astaghfirullah, tentu tidak. Mas sudah janji pada dirimu sejak awal, tidak akan main-main soal itu. Sejauh ini bisa menjaga diri.”
“Itu sama saja dengan aku, Mas,” jawab Retno tenang. “Tanpa bantuan dildo, aku juga mampu menjaga diri.”
Suaminya tersenyum, sedikit malu. “lya, Mas percaya. Mas cuma ingin jaga-jaga kalau suatu waktu kamu merasa tidak kuat menunggu. Dan… Mas lihat kamu tampaknya menikmati persetubuhan tadi, hehehe.” Godaannya terdengar ringan, meski membuat Retno tersentak.
“Maaaas!” Retno memukul lengannya pelan sambil menahan rasa malu.
“Gak apa-apa,” ucap suaminya sambil menenangkan. “Manusia wajar ingin merasa terpenuhi. Itu normal.”
Retno mengembuskan napas, masih heran. “Mas kok jadi tahu banyak hal yang tidak pernah Mas pedulikan sebelumnya.”
Suaminya tertawa lirih. “Namanya juga sering dengar obrolan orang. Ternyata banyak pasangan menemukan cara sendiri untuk saling menenangkan. Mas jadi ikut kepikiran begitu. Terlebih lagi Mas kan memang sudah tidak seperkasa dulu…”
Retno mendekat, bersandar di bahunya. “Tapi bagiku, yang terpenting dirimu tetap ada. Selama ini aku sudah merasa cukup.”
Suaminya merangkulnya lembut. “Iya. Dan semua ini sebenarnya hanya Mas lakukan sebagai langkah tambahan, bukan pengganti apa pun. Kalau kamu merasa tak perlu, ya tidak usah dipakai. Mas cuma tidak mau kamu tersakiti karena Mas sering tidak hadir sepenuhnya.”
Retno membalas pelukannya, suaranya merendah. “Dari awal kita sepakat, yang terpenting adalah kedekatan hati. Yang lain hanya pelengkap. Dan sejauh ini kita selalu baik-baik saja.”
Suaminya mengecup kening Retno penuh kehangatan, seakan ingin menutup percakapan itu dengan sesuatu yang lebih lembut daripada kata-kata.
Namun jauh di sudut hatinya, Retno masih merasa ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. la memilih diam, membiarkan malam bergerak pelan seperti tirai tipis yang menutup ruang penuh tanda tanya.
Hari-hari selanjutnya, dildo pemberian suaminya itu bukan hanya menjadi peneman saat ia ditinggal tugas, tetapi malah berubah menjadi bagian dari kebiasaan baru ketika suaminya pulang Entah mengapa suaminya jadi bersemangat saat membantu Retno mencapai puncak dengan bantuan dildo dan miliknya..
Suaminya seolah menghadirkan perubahan dan nuanasa baru dalam hubungan intim mereka, menghadirkan sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan muncul dalam rumah tangga yang sudah berjalan dengan pola yang nyaris baku. Baik walau waktunya relatif masih baru, sekitar empat tahun.
Beberapa kali Retno mencoba mengingatkannya agar mereka tetap menjaga batas-batas tertentu, terlebih mengingat citra suaminya sebagai sosok yang dikenal religius. Kadang ia menolak secara halus, tetapi suaminya selalu datang dengan cara yang menenangkan, membawa alasan dan rayuan yang membuat keberatan Retno perlahan mereda.
Namun semua itu ternyata tidak bertahan lama. Perlahan, semangat yang dulu menggebu mulai meredup. Retno pun merasakan kejenuhan yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Suaminya, yang sebelumnya begitu antusias, mulai tampak kehabisan arah, seakan upayanya untuk memperbarui kedekatan itu justru membuatnya lelah.
Pada akhirnya, dildo itu ditinggalkan dan Retno membuang tanpa banyak kata. Kehidupan ranjang mereka kembali seperti semula, bahkan mulai lebih hambar, seolah jejak perubahan singkat itu malah menyisakan rongga yang tidak mudah diisi kembali. Sudah hampir setahun mereka bahkan nyaris tak pernah melakukannya lagi.
Ruang tamu rumah Bu Vita tampil seperti etalase kenyamanan kelas menengah atas. Sofa krem berlapis kain impor tersusun rapi, bantal-bantalnya terlalu bersih untuk benar-benar dipeluk. AC berdengung lembut, parfum mahal saling bertabrakan, entah mawar, entah vanilla-menciptakan aroma campuran yang sulit dikenali.
“Silakan duduk, Bu… eh Bu Rina ya?” suara Bu Vita lembut tapi presisi, seperti tahu persis siapa duduk di mana.
“Iya, Bu. Aduh dingin banget AC-nya,” jawab Bu Rina sambil terkekeh, meski tangannya tak bergerak sedikit pun untuk mencari remote.
Meja panjang di sudut ruangan penuh penganan cantik yang tampak lebih siap difoto daripada dimakan. Kue-kue kecil berjajar rapi, salad buah dalam mangkuk bening, dan termos bermerek yang sengaja diletakkan menghadap pintu.
“Termos barunya ya, Bu Vita?” celetuk seseorang.
Bu Vita tersenyum tipis. “Ah, biasa aja. Anak saya yang maksa.”
Para ibu duduk berkelompok, tas-tas berbaris di samping kursi seperti piala sunyi. Obrolan mengalir ringan namun berkilau.
“Kemarin ke Jepang dingin banget, Iho,” kata Bu Maya, nada suaranya seolah menahan detail agar tak terdengar pamer.
“Ih, enak ya… aku mah ke Bandung aja udah bersyukur,” sahut yang lain, tertawa kecil.
“Aduh, sopir baru saya tuh,” lanjut Bu Maya tanpa diminta, “jalannya muter-muter. Katanya GPS-nya ngaco, padahal rumah saya kan tinggal masuk dikit.”
Tawa terdengar terukur, dijaga rapi sesuai citra. Bu Vita bergerak anggun dari satu kelompok ke kelompok lain.
“Makanannya kurang nggak, Bu?”
“Cukup, Bu, lengkap banget.”
“Kalau kurang bilang ya.”
Retno datang belakangan. Begitu ia melangkah masuk, ritme ruangan seperti bergeser satu ketukan. Kursi khusus sudah menunggunya, strategis dan mencolok.
“Oh, Bu Gofur datang,” kata seseorang agak terlalu keras.
“Iya, Bu, sini duduk. Ini memang disiapkan buat Bu Gofur,” sambung yang lain dengan senyum dilebihkan.
Retno membalas dengan anggukan kecil. “Maaf telat, tadi ada sedikit urusan.”
Tasnya sederhana. Justru itu yang membuat beberapa mata tertahan lebih lama. Nama suaminya, dari lingkungan Departemen Agama, melayang-layang tanpa perlu disebut.
“Pak Gofur sehat, Bu?” tanya Bu Vita ramah.
“Alhamdulillah,” jawab Retno singkat.
Percakapan di sekitarnya menyesuaikan arah, topik-topik kecil mendadak digeser ke arah yang lebih “aman”. Tanpa diumumkan, semua paham: arisan hari itu bukan sekadar undian, tapi panggung kecil tempat status dan cerita saling berkilau.
Setelah pengocokan selesai, tepuk tangan menggema.
“Alhamdulillah, rezekinya lancar,” seru seseorang.
“Wah, giliran saya masih lama ya,” sahut yang lain setengah mengeluh, setengah berharap.
Beberapa ibu langsung meraih ponsel.
“Foto dulu, dong.”
“Kirim ke grup ya.”
“Biar update.”
Makan siang datang seperti aba-aba tak tertulis. Para ibu bergerak membentuk gerombolan-gerombolan kecil.
“Eh kita sini aja.”
“Jangan situ, penuh.”
“Ayo gabung.”
Meja makan panjang berubah jadi peta sosial.
Di satu sisi, tawa meledak-ledak.
“Dokter itu mahal, tapi hasilnya kelihatan.”
“Skincare ini katanya dipakai artis, lho.”
“Ih, artis yang mana? Aku nggak kenal.”
Di sisi lain, suara lebih rendah tapi tajam.
“Katanya sih…”
“Ya, tapi jangan bilang-bilang.”
Retno memilih duduk bersama empat ibu senior di pojok dekat jendela.
“Ambil sedikit aja ya, Tante,” kata Bu Ida.
“Iya, Bu,” jawab Retno sambil tersenyum.
“Harga tanah sekarang aneh,” ujar Bu Lela sambil mengaduk sup.
“Naiknya cepat banget, nggak jelas sebabnya.”
“Namanya juga sekarang,” sahut yang lain.
“Anak bungsuku tuh,” lanjut Bu Ida, “terlalu pintar. Malah susah dapat jodoh.”
“Waduh, kebanyakan mikir kali,” timpal Bu Lela.
Tawa kecil terdengar, lalu obrolan meloncat lagi.
“Rumah dinas lama itu masih sering ‘ngingetin’,” kata Bu Ida, suaranya diturunkan.
“Masa sih?”
“Serius. Penghuninya suka dengar suara langkah.”
Retno ikut mencondongkan badan, meski wajahnya tetap netral. la lebih banyak mengangguk, tertawa kecil di tempat yang dirasa tepat, tangannya sibuk dengan sendok dan air putih. la merasa seperti tamu di negeri asing-paham bahasanya, tapi belum berani bercakap bebas.
Lalu suasana berubah.
Bu Ida mencondongkan badan lebih jauh. “Ngomong-ngomong soal keluarga harmonis,” katanya pelan, “kalian dengar kabar Bu Vivin?”
Nama itu jatuh ke meja.
Retno membeku sejenak.
“Bu Vivin? Yang selalu bareng Pak Martin?” tanya seseorang.
“Iya,” jawab Bu Lela cepat. “Katanya sudah masuk gugatan cerai.”
Sendok Retno berhenti di udara.
“Loh, kenapa?”
“Pak Martin itu, katanya sudah loyo,” bisik Bu Lela.
“Bukan cuma capek, benar-benar… ya gitu deh.”
Nada suara mereka campur aduk antara iba dan rasa ingin tahu.
“Yang bikin heboh,” Bu Ida menutup mulut dengan punggung tangan, “Bu Vivin sekarang malah ketagihan… mainan dildo yang dipesan online itu.”
Waktu seperti tersandung. Retno terbatuk kecil. “Uhuk….maaf,” katanya cepat sambil meraih air. Dadanya berdebar tidak sopan.
Para ibu saling pandang. Ada yang menggeleng pelan, ada pula yang mengangkat alis tinggi-tinggi.
“Zaman sekarang ya, aneh-aneh saja padahal mereka kan udah sepuh, Bu Vivin udah mau 55 kan?” gumam seseorang.
“Kasihan juga sebenarnya.”
Retno menunduk, berpura-pura sibuk dengan mangkuknya. la tak tahu mana yang lebih mengejutkan: kabar itu sendiri, atau betapa mudahnya cerita sebesar itu diucapkan di meja makan yang masih berbau kuah kaldu.
Arisan bubar tanpa penutup resmi.
“Duluan ya, Bu.”
“Iya, hati-hati.”
“Nanti kita WA-an lagi.”
Para ibu pulang bergelombang. Ada yang masih tertawa di teras, ada yang sudah berbisik di balik pintu mobil. Rumah Bu Vita kembali rapi, tapi sisa-sisa cerita tertinggal di udara, lengket, dan sulit diusir.
Di rumahnya, Retno duduk sendirian lebih lama dari biasanya. Tas arisan masih tergeletak di kursi, belum ia sentuh. Kepalanya penuh. Gosip tentang Bu Vivin berputar-putar tanpa izin, terlalu jelas, terlalu dekat. Setiap potongan cerita terasa seperti cermin buram yang memantulkan sesuatu dari hidupnya sendiri.
la menarik napas panjang. Apa yang dialami Bu Vivin, hampir saja menjadi kisahnya. Atau mungkin, sebagian darinya sedang ia jalani. Ingatannya melayang pada sebuah hadiah dari suaminya dulu, diberikan dengan niat baik, mungkin juga dengan rasa bersalah yang tak diucapkan. Benda itu sempat mengisi ruang sunyi yang tak pernah benar-benar ia akui. Nyaris membuatnya lupa diri.
la bersyukur sudah membuangnya. Benar-benar membuang dan membakarnya, tanpa menoleh lagi yang tersisa hanya abu. Namun rasa waswas itu tetap ada, tipis tapi tajam, seperti benang halus yang menjerat pikiran. la takut pada dirinya sendiri, pada kemungkinan tergoda kembali. Terlebih kini, ketika usia suaminya semakin sepuh, jarak yang dulu hanya samar terasa kian nyata.
Retno menatap ruang tamu yang hening. Tidak ada gosip di sana, tidak ada bisik-bisik, hanya detak jam dinding yang jujur dan tak peduli. la menyadari satu hal yang membuat dadanya menghangat sekaligus ciut. Bebas dari benda itu bukan akhir cerita.
Justru mungkin awal dari kewaspadaan baru. Dan di balik ketenangan sore itu, Retno tahu, godaan tak selalu datang dengan wajah asing. Kadang, ia datang membawa nama orang lain, lewat gosip di meja makan, dan menetap diam-diam di hati.
Yang paling membuat Retno heran, sekaligus takut, justru bukan isi gosip itu sendiri, melainkan jalurnya. Bagaimana sesuatu yang sedemikian pribadi, sedemikian tertutup, bisa mengalir mulus dari ruang tidur seseorang hingga mendarat rapi di meja arisan ibu-ibu kompleks. Tanpa tersangkut. Tanpa rem. Seolah dinding rumah tak pernah benar-benar ada.
la memejamkan mata, mencoba menelusuri kemungkinan-kemungkinan yang membuat tengkuknya meremang. Apakah dari asisten rumah tangga yang terlalu lama tinggal lalu terlalu banyak bercerita. Atau dari sopir yang menunggu terlalu sabar di garasi sambil mendengar pertengkaran yang tak sengaja bocor.
Bisa juga dari sahabat yang awalnya hanya tempat curhat, lalu satu kalimat itu terlepas, berpindah mulut, membelah diri, beranak-pinak, sampai akhirnya tiba dalam versi yang lebih berani, lebih liar.
Retno menggigit bibir. Di lingkungan ini, reputasi berjalan lebih cepat daripada kebenaran. Yang privat tidak benar-benar privat. Yang rahasia hanya menunggu waktu untuk menemukan panggungnya. Dan ia sadar, gosip Bu Vivin bukan sekadar cerita orang lain. Itu peringatan sunyi. Bahwa hidup yang tampak rapi dari luar bisa saja berlubang di dalam, dan lubang itu, entah bagaimana caranya, selalu berhasil ditemukan orang lain.
la menatap sekeliling rumahnya sendiri. Dinding-dindingnya terasa lebih tipis dari biasanya. Retno mendadak berhati-hati pada siapa pun yang pernah ia ajak bicara terlalu jujur, pada kalimat-kalimat yang mungkin dulu ia ucapkan tanpa beban. Ketakutannya kini bergeser. Bukan hanya takut tergoda lagi, tetapi takut suatu hari namanya disebut dalam gosip serupa.
Gosip Bu Vivin tak berhenti di arisan. la bocor ke warung, ke kerumunan tukang sayur, diucapkan sambil tertawa ringan seolah tak membawa beban. Retno mendengarnya sekilas demi sekilas, dan setiap kali dadanya mengencang.
la mulai menarik diri, rapi dan pelan. Pergaulan dipersempit hanya pada kegiatan resmi kemasyarakatan. Undangan kecil dihindari. Bahkan senam bersama ia tinggalkan, memilih bergerak sendiri di belakang rumah, ditemani tembok dan jemuran.
Namun ketakutannya tak menyusut. Justru mengental. Semakin gosip itu beredar, semakin Retno merasa cerita itu bukan tentang Bu Vivin. Terlalu dekat. Terlalu pas. Seolah gosip itu hanya menumpang nama orang lain, menunggu waktu untuk menyebut namanya sendiri.

