Pacarku dientot tukang pijit – Aku, Fajar, sudah terbiasa dengan kesunyian itu. Dua tahun tinggal bersama Jihan di rumah mungil berlantai dua di kawasan yang relatif tenang di pinggiran kota membuatku paham betul bagaimana setiap sudut ruangan bernapas. Lantai kayu yang sesekali berderit di dekat tangga, aroma kopi yang masih tertinggal di dapur meski sudah dingin, dan cahaya matahari sore yang selalu menyusup melalui tirai tipis kamar utama—semua itu menjadi bagian dari ritme hidup kami.
Jihan sedang duduk di sofa ruang tengah ketika aku pulang lebih awal dari biasanya. Hari itu kantor memberiku izin bekerja dari rumah setelah rapat pagi yang berlangsung singkat. Aku membuka pintu pelan, melepaskan sepatu, dan langsung menangkap aroma tubuhnya yang familiar: campuran sabun lavender, sedikit keringat tipis di belakang telinga, dan wangi parfum yang sudah memudar sejak pagi.
PORTALDEWASA – Ia mengenakan kaus oversized putih yang longgar di bahu kiri, menampakkan tulang selangka yang tajam dan kulit keemasan yang selalu membuatku ingin menyentuh. Rambutnya yang panjang sebahu tergerai berantakan, sebagian terselip di belakang telinga. Matanya yang besar dan sedikit sipit menatap layar laptop di pangkuannya, alisnya berkerut pelan seolah sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
“Kamu pulang lebih cepat?” suaranya lembut, masih tanpa menoleh.
“Rapatnya selesai cepat. Aku bilang mau kerja dari rumah.” Aku berjalan mendekat, menaruh tas di meja, lalu duduk di sampingnya. “Kamu lagi apa?”
“Revisi desain klien. Mereka minta perubahan layout untuk ketiga kalinya.” Jihan menutup laptop perlahan, lalu menghela napas panjang. Bahunya turun. “Aku pegal banget, Fajar. Punggung sama leher. Seharian duduk.”
Aku mengangkat tangan, menaruhnya di tengkuknya. Jari-jariku menekan pelan otot yang memang terasa kaku. Kulitnya hangat. Aku bisa merasakan detak nadi di dekat tulang belakangnya. Jihan mengangguk pelan, memejamkan mata sejenak.
“Enak…,” gumamnya. “Tapi kamu nggak bisa pijat yang beneran. Tangannya kamu terlalu kasar kadang.”
Aku tertawa kecil. “Aku bisa belajar.”
“Nggak usah. Aku sudah pesan tukang pijat ke rumah. Jam tiga nanti.” Ia membuka mata, menatapku. Senyumnya tipis, tapi matanya terlihat lelah. “Yang biasa. Rizky. Dia sudah pernah ke sini dua kali bulan lalu. Pijatnya dalam, nggak main-main.”
Nama itu sempat terngiang di kepalaku. Rizky. Aku ingat samar-samar. Pria tinggi, bahu lebar, tangan besar yang terlihat terbiasa menekan otot. Waktu itu aku hanya sempat bertemu sebentar di pintu sebelum pergi ke kantor. Jihan bilang dia profesional, bersertifikat, dan sudah sering dipanggil ke perumahan sekitar.
“Oke,” jawabku singkat. “Aku kerja di kamar atas saja biar kamu tenang.”
Jihan mengangguk, lalu menyandarkan kepala di bahuku sejenak. Aku mencium puncak kepalanya. Aroma rambutnya masih wangi shampoo yang sama sejak kami pertama kali tinggal bersama. Ada kehangatan yang familiar di antara kami, tapi juga ada jarak yang pelan-pelan terbentuk tanpa kami sadari. Pekerjaan, kelelahan, dan ritme yang semakin jarang bertemu di malam hari membuat sentuhan kami lebih sering menjadi formal daripada penuh hasrat.
Aku bangkit, mengambil laptop, dan naik ke lantai atas. Kamar kerja kecil di pojok rumah menjadi tempatku menghabiskan sisa siang. Dari jendela, aku bisa melihat halaman belakang yang dihiasi beberapa pot tanaman yang dirawat Jihan. Suara burung sesekali terdengar, tapi lebih banyak keheningan.
BACA JUGA : Portal Dewasa – Pemuas Istri Boss

Jam menunjukkan pukul dua empat puluh ketika bel rumah berbunyi.
Aku tidak turun. Aku mendengar suara Jihan membuka pintu, lalu percakapan singkat yang sayup-sayup. Suara pria yang lebih dalam, tenang, dan sedikit serak. Rizky.
“Masuk aja, Rizky. Langsung ke ruang tengah ya. Aku siap.”
Aku mencoba fokus pada layar. Pekerjaan harus diselesaikan. Tapi telinga tetap menangkap setiap suara dari bawah. Langkah kaki di lantai kayu. Suara tas yang diletakkan. Lalu suara Jihan lagi.
“Aku pegal banget di sini… dan di sini.”
Aku membayangkan jarinya menunjuk ke leher dan punggung bawah. Aku pernah memijatnya di tempat yang sama. Aku tahu bagaimana ototnya mengeras, bagaimana ia mengerang pelan ketika tekanan tepat mengenai titik yang sakit.
Lalu keheningan. Hanya suara napas dan gesekan kain.
Aku berdiri dari kursi. Kaki membawa diriku ke pintu kamar yang terbuka. Dari sana, aku bisa melihat turun ke ruang tengah melalui pagar tangga yang terbuat dari kayu berukir. Ruang tengah terlihat jelas dari sudut itu jika seseorang berdiri di posisi yang tepat.
Jihan sudah berbaring telungkup di atas matras pijat yang dibentangkan di lantai. Ia masih mengenakan kaus oversized itu, tapi sekarang bagian bawahnya sudah digulung hingga pinggang, menampakkan punggung telanjang sampai tepat di atas bokong. Celana pendek olahraga abu-abu yang biasa ia pakai di rumah masih menempel di pinggang, tapi kainnya sudah tertarik sedikit ke bawah, menampakkan lekuk tulang pinggang yang dalam dan kulit mulus yang mengkilap karena minyak.
Rizky berlutut di sampingnya. Pria itu lebih besar dari yang aku ingat. Bahu lebar memenuhi kemeja hitam yang digulung hingga siku. Lengan berotot dengan vena yang menonjol ketika ia menuangkan minyak ke telapak tangan. Wajahnya tegas, rahang kuat, rambut pendek agak acak-acakan. Matanya menatap punggung Jihan dengan fokus yang profesional—setidaknya begitu kelihatannya dari jauh.
“Nafas pelan, Mbak,” suaranya rendah. “Aku mulai dari leher dulu.”
Tangannya yang besar menempel di tengkuk Jihan. Ibu jari menekan, lalu bergerak lambat ke bawah mengikuti garis tulang belakang. Jihan mengerang pelan. Suara itu lembut, hampir seperti desahan yang tertahan. Aku berdiri diam di balik pagar tangga, tubuhku kaku.
Aku seharusnya kembali ke kamar. Aku seharusnya menutup pintu dan memasang earphone. Tapi kaki tidak bergerak.
Rizky bekerja dengan gerakan yang teratur. Telapak tangannya yang lebar menutupi hampir seluruh lebar punggung Jihan. Ia menekan, menggeser, lalu menekan lagi. Minyak membuat kulit Jihan mengkilap di bawah cahaya sore yang masuk dari jendela. Setiap kali jari Rizky melewati pinggang, kaus yang digulung itu sedikit bergeser lebih tinggi, menampakkan lebih banyak kulit.
“Sini lebih kaku,” gumam Rizky. “Mbak sering duduk lama ya?”
“Iya… seharian,” jawab Jihan, suaranya terdengar serak. “Lebih dalam sedikit… ah—”
Desahan itu lebih jelas. Bukan sekadar suara sakit. Ada sesuatu yang lebih dalam di nadanya. Rizky tidak menjawab. Ia hanya menambah tekanan. Kedua ibu jarinya sekarang menekan di sisi tulang belakang, bergerak naik turun dengan ritme yang lambat dan dalam. Tubuh Jihan sedikit bergoyang mengikuti gerakan itu. Bokongnya yang masih tertutup celana pendek bergerak pelan di atas matras.
Aku menelan ludah. Jantung berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.
Rizky bergeser ke posisi yang lebih rendah. Tangannya sekarang berada di pinggang Jihan, tepat di atas garis celana. Ia menarik sedikit kain itu ke bawah—hanya sedikit, cukup untuk menampakkan lekuk bokong bagian atas.
Kulit di sana lebih cerah, mulus, dan sedikit bergetar ketika jari Rizky menekan otot di dekat tulang pinggang.
“Mbak, boleh aku longgarkan celananya sedikit? Biar lebih leluasa di area pinggang bawah.”
Jihan terdiam sejenak. Lalu, dengan suara yang hampir berbisik, “Boleh… pelan-pelan aja.”
Aku melihat Rizky menarik celana pendek itu lebih turun. Sekarang bokong Jihan setengah terbuka. Bentuknya bulat, padat, dengan lekuk yang dalam di tengah. Minyak yang tumpah sedikit mengalir ke celah itu, membuat kulit mengkilap. Rizky menuangkan minyak lagi ke telapak tangan, lalu meletakkan kedua tangan di atas bokong Jihan. Ia tidak langsung memijat. Ia hanya menekan pelan, seolah mengukur ketegangan otot.
Jihan menghela napas panjang. Punggungnya naik turun. Rambutnya yang tergerai di samping wajah bergerak pelan ketika ia memalingkan kepala ke samping. Dari posisiku, aku bisa melihat separuh wajahnya. Mata terpejam, bibir sedikit terbuka, dan ada rona merah tipis di pipi.
Rizky mulai memijat. Gerakannya lambat, dalam, dan sangat fokus pada area bokong dan pinggang bawah. Jari-jarinya menekan, menggeser, lalu menekan lagi dengan tekanan yang membuat daging lembut di sana bergoyang pelan. Sesekali ibu jarinya masuk lebih dalam ke celah bokong, bukan dengan maksud menggoda—setidaknya begitu kelihatannya—tapi cukup untuk membuat Jihan menahan napas.
“Sini… lebih dalam,” bisik Jihan. Suaranya hampir tidak terdengar, tapi aku menangkapnya.
Rizky menurut. Tekanan bertambah. Sekarang kedua telapak tangannya menutupi hampir seluruh bokong Jihan, menguli, menekan, dan sesekali menarik sedikit ke samping sehingga celah di tengah terbuka lebih lebar. Minyak mengilap di sana. Aku bisa melihat sedikit kulit lebih gelap di dekat lubang anus yang masih tertutup, dan lebih ke depan, bayangan lipatan vagina yang mulai terlihat karena posisi kaki Jihan yang sedikit terbuka.
Aku merasa panas di dada. Bukan hanya cemburu. Ada sesuatu yang lebih rumit. Hasrat yang bercampur dengan rasa tidak percaya. Aku belum pernah melihat Jihan seperti ini—begitu pasrah di bawah tangan pria lain, tubuhnya bereaksi dengan cara yang biasa hanya aku yang lihat.
Rizky bergeser lagi. Sekarang ia berada di antara kedua kaki Jihan yang sedikit dibuka. Posisi itu membuat celana pendek yang sudah longgar semakin turun. Hampir seluruh bokong dan bagian atas paha terlihat. Rizky menuangkan minyak ke paha dalam Jihan, lalu mengusap perlahan dari lutut naik ke atas, berhenti tepat di bawah lipatan bokong.
“Mbak, kaki dibuka sedikit lagi biar aku bisa ke otot dalam.”
Jihan menurut. Kedua kakinya merenggang. Sekarang aku bisa melihat lebih jelas. Celana dalam putih tipis yang ia pakai sudah basah di bagian tengah. Kainnya menempel di bibir vagina yang sedikit terbuka karena posisi. Ada noda basah yang semakin melebar.
Rizky melihatnya. Aku yakin ia melihatnya. Tapi ia tidak berkomentar. Tangannya hanya terus bergerak, memijat paha dalam dengan gerakan naik turun yang semakin mendekati pusat. Setiap kali jari-jarinya hampir menyentuh kain basah itu, Jihan mengerang lebih keras.
“Ahh… Rizky… di situ…”
Suara itu membuat seluruh tubuhku tegang. Aku meremas pagar tangga sampai buku-buku jari memutih.
Rizky berhenti sejenak. Ia menatap punggung Jihan, lalu suaranya turun lebih rendah.
“Mbak basah.”
Jihan tidak menjawab langsung. Napasnya terdengar berat. Lalu, dengan suara yang hampir seperti bisikan malu-malu sekaligus penuh hasrat, “Aku… aku nggak tahu kenapa. Pijatan kamu… terlalu dalam.”
Rizky tidak tertawa. Ia tidak mengomentari. Ia hanya mengusap lagi paha dalam itu, kali ini lebih lambat, lebih sengaja. Jari tengahnya menyentuh tepi kain basah, menekan pelan bibir luar yang sudah membengkak.
Jihan menggigit bibir. Pinggulnya bergerak sedikit ke belakang, seolah mencari tekanan itu.
Aku berdiri mematung. Darah di kepalaku berdesir. Aku tahu aku harus turun, harus menghentikan ini, harus bilang sesuatu. Tapi tubuh menolak. Mataku terpaku pada jari Rizky yang sekarang sudah menyusup di bawah kain celana dalam, menggeser perlahan bibir vagina yang licin.
“Mbak,” suara Rizky masih tenang, tapi nada profesionalnya sudah retak. “Kalau aku lanjut… kamu yakin?”
Jihan mengangguk pelan. Rambutnya bergoyang. “Lanjut… jangan berhenti.”
Rizky menarik celana dalam itu ke samping. Sekarang vagina Jihan terbuka sepenuhnya di hadapannya. Bibir luar yang sudah bengkak, berwarna merah muda gelap, mengkilap karena cairan. Klitoris sedikit menonjol di atas, dan lubang yang berdenyut pelan seolah sudah menunggu. Aroma seksual yang samar-samar naik sampai ke posisiku—campuran minyak pijat, keringat tipis, dan bau khas Jihan yang biasa hanya aku yang kenal.
Rizky menunduk. Aku melihat lidahnya keluar, menyentuh bibir luar itu dengan jilatan panjang yang lambat dari bawah ke atas. Jihan melonjak. Desahan panjang keluar dari mulutnya, tertahan di bantal matras.
“Ohh… fuck…”
Rizky tidak buru-buru. Ia menjilat lagi, lebih dalam, membuka bibir itu dengan lidah, menghisap pelan klitoris yang sudah keras. Tangannya yang bebas memegang bokong Jihan, membuka lebih lebar supaya lidahnya bisa masuk lebih dalam. Suara basah, suara hisapan, dan desahan Jihan yang semakin tidak terkendali memenuhi ruang tengah.
Aku merasa celana dalamku basah. Kontolku sudah tegang sempurna, menekan kain celana kerja. Aku tidak bergerak. Aku hanya menonton.
Rizky bangkit sedikit. Ia membuka resleting celananya dengan satu tangan. Kontolnya keluar—besar, tebal, urat-uratnya menonjol, kepala sudah mengkilap karena pre-cum. Ia mengusapkan kepala kontol itu di bibir vagina Jihan, naik turun, membasahi seluruh batang dengan cairan Jihan.
“Mbak… aku masuk.”
Jihan mengangguk cepat. “Masuk… pelan…”
Rizky menekan. Kepala kontol itu membuka lubang yang sempit. Jihan mengerang panjang ketika batang itu masuk perlahan, senti per senti, sampai seluruhnya tertelan. Pinggul Rizky menempel di bokong Jihan. Ia diam sejenak, membiarkan Jihan menyesuaikan.
Lalu ia mulai bergerak.
Thrust pertama lambat. Keluar sampai hampir lepas, lalu masuk lagi sampai mentok. Suara basah “plok… plok…” mulai terdengar. Jihan mendorong pinggulnya ke belakang, menyesuaikan ritme. Rizky memegang pinggangnya dengan kedua tangan, jari-jari menekan daging lembut di sana, lalu mempercepat.
Aku melihat semuanya. Bagaimana kontol tebal itu keluar-masuk, mengkilap karena cairan, bagaimana bibir vagina Jihan meregang mengelilingi batang itu, bagaimana bokongnya bergoyang setiap kali ditumbuk. Desahan Jihan berubah menjadi erangan yang lebih keras, lebih terbuka.

