Kasih Sayang Ibu

Kasih Sayang Ibu

Kasih sayang ibu yang sudah melampau batas

Kasih Sayang Mama – Anak tiriku Bram baru saja selesai di-diagnosa atas ketidak-seimbangan hormonal yang dialami tubuhnya yang menyebabkan badan anak kecil itu selalu merasa nyeri yang teramat sangat. Ini dikarenakan dengan adanya ketidak-seimbangan hormonal itu menyebabkan penisnya selalu ereksi setiap saat.

Bram sendiri merasa malu untuk memberitahu kepada orang-orang bahkan juga padaku, ayah tirinya, perihal ketidak-nyamanan yang dialaminya. Padahal aku sayang dan mencintainya layaknya anak kandungku sendiri.

Sebenarnya kami (aku dan Bram) cukup akrab sehari-harinya, tapi… tidak untuk kasus yang sedang dialaminya! Bram adalah seorang anak yang baik, cerdas tapi… sangat pemalu.

Portal Dewasa rasa sakitnya itulah, akhirnya Cantika, ibu kandungnya Bram membawanya untuk diperiksa oleh seorang dokter spesialis anak-anak. Saat giliran periksanya tiba, sang dokter spesialis anak itu memandang wajah Bram sekilas lalu menoleh ke Cantika dengan mengangkat sedikit keatas bahunya, mempersilahkan Cantika duduk menunggu di bangku terdekat.

Dokter itu memberi resep obat, katanya bahwa obat itu akan sedikit mengurangi rasa sakitnya yang disebabkan kasus penyakit yang dialami Bram itu.”Cerita Cinta Khusus Dewasa

Dokter itu juga memberitahu Cantika bahwasanya obat itu sedikit bahkan mungkin tidak ada pengaruhnya samasekali terhadap ereksinya penis Bram. Dijelaskan selanjutnya oleh dokter itu bahwa penis besar milik Bram yang selalu ereksi itu menunjukkan gejala awal dari suatu suatu penyakit (symptom of the disorder).

Cantika mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter itu, tapi tidak cukup jeli mengartikan besarnya penis yang dimaksudkan dokter itu. Pikirnya sederhana saja yaitu pastilah penis seseorang akan menjadi besar saat mengalami ereksi.

Keesokan harinya, Cantika melihat kondisi Bram, sesuai dengan apa yang sudah di-prediksi dokter spesialis anak kemarin, memang obat itu tidak ada efeknya samasekali atas ketidak-nyamanan yang dialami Bram.

Kami (aku dan isteriku Cantika) sepakat memeriksakan kondisi tubuh Bram kembali, kali ini pada seorang dokter praktek umum yang lokasi-nya agak dekat dari rumah kami.

Ditempat dokter praktek umum itu, sang dokter malahan mengusulkan solusi yang katanya sederhana saja untuk mengatasi ketidak-nyamanan yang dialami Bram. Katanya dengan nada yakin tapi santai, kalau penis Bram mengalami ereksi, ajarkan saja Bram cara untuk… ber-masturbasi! Kata dokter itu selanjutnya, “Beres sudah…!

Cantika mendengarkan saran dokter itu, pikirnya, ‘Benar juga ya tapi… siapa yang akan menerangkan pada Bram cara masturbasi yang benar?’.

Sesampainya dirumah, Cantika mengajakku berbicara empat mata.

Cantika berkata padaku dengan ragu bahwa dia bingung menerangkan cara masturbasi pada Bram, anaknya itu dan memintaku agar aku saja yang mengajarkan Bram cara ber-masturbasi yang benar.

Aku yang mendengarkan usulan isteriku menjadi terperanjat, aku menampik dengan halus dan menerangkan padanya bahwa sebenarnya Bram lebih dekat padanya ketimbang padaku apalagi dalam urusan yang sifatnya sangat pribadi, bukankah kami relatif belum lama menikah?

***

Suatu malam, tatkala Bram telah berada didalam kamar tidurnya.

Cantika datang mendekati pintu kamar tidur Bram dan mengetuk pelan pintu itu.

(Tok-tok-tok)

Aku, ayah tirinya menjadi tertarik tanpa sebab, dengan mengendap-endap aku menguping pembicaraan antara ibu dan anaknya itu.

Cantika berbicara lembut tapi agak gugup seperti apa kudengar saat itu. Dia melakukan juga dengan berat hati, apa yang disarankan oleh dokter praktek umum beberapa hari sebelumnya.

Dia bertanya dengan lembut perihal ‘problem’ anaknya itu.

Yang dijawab dengan kesal oleh Bram, “Iya… mam. Ini sekarang mulai terasa lagi ‘sakit’-nya…! Aku sudah tidak suka meminum obat itu lagi… membuat perutku menjadi… sangat mual!”

Cantika menjadi iba hatinya melihat kondisi anaknya lalu menceritakan apa yang diusulkan oleh dokter praktek umum mengenai masturbasi. “Apa kau tahu nak… apa arti masturbasi itu?,” kata Cantika dengan lembut dan berhati-hati.

“Apa pula itu… mam? Artinya… apa itu, mam?”, Bram menanggapi pertanyaan ibunya dengan was-was.

Cantika menjawab dengan lembut, “Uuuh… mmmh… sebenarnya mama sudah meminta papamu… baiklah begini… masturbasi adalah kata lain yang artinya upaya merangsang penismu sendiri dengan tanganmu… yaitu menggenggamkan tanganmu pada… eeehm… maksud mama adalah menggenggam batang penismu yang sudah keras itu…

Kudengar Cantika berusaha keras untuk menyelesaikan kata-katanya.

Tampak wajah Bram malah tambah bingung jadinya, dengan sabar dia menunggu penjelasan ibunya selanjutnya. Baginya yang terpenting dia terbebas dari ‘siksaan’ yang dialaminya, pikirnya adalah tidak terlalu penting dia harus begini atau begitu…

Cantika meneruskan kalimatnya, “Semakin… cepat kocokan pada penismu sampai kau merasakankan… pada penismu… oh salah… maksud mama… sampai kau merasakan pikiranmu nyaman… maksud mama… enak sekali… dan kemudian penismu ber-eyakulasi… aaah… ya begitulah… Cantika merasa lega telah menuntaskan kalimatnya yang sempat terputus tadi.

Bram hanya bengong saja kelihatannya, berusaha mencernakan apa yang dikatakan ibunya barusan.

Cantika malah jadi khawatir melihat mimik wajah anaknya itu. baru saja dia ingin menjelaskan lagi secara perlahan, tiba-tiba datang satu pertanyaan dari Bram.

“Ejakulasi… itu artinya apa ya mam? Kok susah-susah sekali ya… istilahnya…”, tanya Bram dengan muka lugu. Cantika menjadi lega dengan pertanyaan Bram, berarti Bram bisa menanggapi kalimat yang diucap Cantika tadi.

Bram memang anak yang cerdas… dengan lancar Cantika menjelaskannya, “Ejakulasi adalah keluarnya… sejenis cairan yang berwarna putih pekat seperti shampo atau lotion… dari ujung penismu, mama pastikan penismu akan mengecil lagi dan kemudian kamu akan dapat beristirahat tidur dengan tenang memulihkan energi-mu kembali.

tapi… jangan lupa membersihkan cairan itu dengan handuk kecil… nanti mama sediakan dan menaruhnya didekatmu…”.

Bram menjawabnya segera, “Aku akan mencobanya sekarang…!”

Sementara itu aku buru-buru kembali kekamar dan berbaring diatas tempat tidur, tentu saja dengan memegang buku bacaanku.

Tak lama Cantika masuk kekamar kami, dengan panik dia berkata padaku, “Uuuh… OMG…! Aku telah melakukannya…! Mengajarkan cara bermasturbasi… pada anakku sendiri… oooh… ibu macam apa aku ini!” Cantika melemparkan tubuhnya berbaring disampingku sembari tersedu.

Kataku, “Sudahlah, bukankah itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai orangtuanya? Daripada kita melihat anak kita tersiksa sepanjang hari…”.

Cantika menjawab lemah sembari menguap, “Hooo… aaahem… benar juga katamu… Bram anak yang cerdas tentu dia bisa melakukannya dengan benar… hooo… aaahem…”.

(Zzz…) (zzz…)

Cantika sudah tertidur pulas. Rupanya perbincangannya dengan anaknya, Bram itu menguras cukup banyak energinya…

Baca Juga : Surga Gangbang Selebriti

****************************

Pada keesokan harinya sebelum Bram beranjak untuk tidur, dia berterus-terang pada ibunya. Katanya dia sudah berusaha untuk ber-masturbasi tapi tidak berlangsung dengan baik.

Segala upaya dia mencoba tapi tidak ada setetes pun cairan yang keluar dari dari ujung penisnya, seperti yang diterangkan ibunya kemarin malamnya.

Cantika menemuiku dan memberitahukan padaku apa yang telah terjadi pada Bram, anak kami itu.

Kataku pada Cantika, “Jujur saja sayang… aku tidak tahu apa yang aku dapat katakan padamu sekarang… barangkali kamu dapat menjelaskannya sekali lagi padanya atau… memberikannya sebotol baby-oil… mungkin?”

Cantika rupanya menyetujui saranku, bergegas dia kekamar mandi untuk mengambil sebotol baby-oil yang kumaksud. Lalu segera menuju kamar Bram seperti apa yang dilakukannya pada kemarin malamnya.

Sedangkan aku seperti halnya dengan kemarin malam, sudah bercokol didekat pintu kamar Bram untuk ‘memantau’ keadaan.

Kudengar Cantika berkata pada Bram, “Ini… nak, pakailah sedikit minyak ini. Balurkan pada kedua belah telapak tanganmu sebelum kamu masturbasi malam ini…”.

Bram menjawab sambil lalu acuh tak acuh, rupanya dia tidak tertarik sama sekali, “Aku rasa itu tidak akan banyak membantu, mam”. Hening sejenak, tiba-tiba terdengar lagi suara Bram, “Mam… bisakah mama… memperlihatkan pada Bram… bagaimana… caranya…?”

Terdiam sejenak, Cantika menarik napas panjang, lalu berkata, “Mama rasa… OK… bisa”.

Segera dengan nekat dan menahan malu Bram menarik selimut yang menutupi tubuhnya sehingga Cantika dapat melihat bahwa anaknya itu hanya memakai celana dalam saja… Ereksi yang sudah berlangsung lama sedari tadi dari penis Bram membentuk kerucut bagaikan kemah kecil saja layaknya.

Terkesiap Cantika melihat itu dengan takjub, jadi teringat dia akan kata-kata dokter spesialis anak padanya beberapa hari yang lalu, rupanya ini yang dimaksudkan dokter spesialis anak itu dengan perkataannya ‘penis besar milik Bram yang selalu ereksi’.

‘Bodohnya aku… tidak serius menyimak perkataannya… aku salah menafsirkan perkataannya…!’, maki Cantika pada dirinya sendiri sembari tetap memperhatikan Bram, anaknya itu.

Bram sudah melepas CD-nya… Seketika Cantika menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. ‘OMG…! ’, jerit Cantika dalam hatinya. Sungguh suatu hal hampir tidak bisa diterima akalnya, bagaimana mungkin bisa terjadi?! Bram yang baru berusia 10 tahun lebih 2 bulan itu memiliki penis sepanjang 25 cm!

“Eeehem…!”, Cantika membersihkan tenggorokannya dahulu. Dengan berusaha keras untuk tetap tenang, Cantika memulai obrolan dengan anaknya, Bram. “Coba perlihatkan pada mama bagaimana… kamu melakukannya…?”

Dengan tenang Bram menggenggamkan tangan-tangan kecilnya melingkari batang penis besar itu pada pangkalnya lalu mengocoknya perlahan. “Lihat! Itu tidak bekerja sama sekali… bukan?,” kata Bram frustrasi.

“Barangkali kamu harus melakukan dari ujung penis dan menurun sampai pangkal… penismu, barangkali dengan sedikit lebih pelan mengocoknya… ”, kata ibunya gemetar. Cantika terpesona oleh ukuran besar penis anaknya dengan… buah pelirnya serasi besarnya. Cantika merasa tangannya secara refleks mendekat…

“Tidak mam… mama yang melakukannya… untukku…”, komentar anaknya dengan skeptis. Katanya lagi pada ibunya, “Bukankah mama ingin membantuku…? Aku akan melakukan apa saja… untuk menghentikan ‘sakit’-ku ini…!”

Cantika dengan sungkan dia mengulurkan tangannya dan… menggenggam penis anaknya itu, seraya berkata, “Apa kamu… OK begini, nak…?,” tanya Cantika.

“Oh… iya mam, rasanya lebih baik dari tanganku sendiri… tangan mama begitu halus… dan hangat… dibandingkan tanganku…”, Bram seketika merasa relaks dan merebahkan kepalanya pada bantal kembali, memperhatikan tangan ibunya yang mulai mengocok penisnya perlahan.

“Kamu tahu…”, kata Cantika sembari tetap mengocok-ngocok penis anaknya. “Kamu harus membayangkan tubuh telanjang seorang cewek… itu akan membantumu cepat… ejakulasi”.

“Aku tak tahu mam… kurasa cara ini akan… berhasil”, jawab Bram yang napasnya mulai tersengal-sengal akibat rangsangan pada penisnya, dia memejamkan matanya, agaknya dia menikmati sekali rangsangan ini.

Cantika lebih mendekat lagi dengan tubuh anaknya, dengan begitu dia dapat lebih keras dan cepat mengocok penis Bram. Ini sudah berlangsung selama 5 menitan dan tangan Cantika mulai merasa pegal.

“Nak… cobalah berusaha membayangkan tubuh seorang cewek yang telanjang… penismu sebenarnya diperuntukan untuk cewek…”, kata Cantika yang napasnya ikut-ikutan megap-megap sama halnya dengan anaknya.

“Maksud mama… apa?”, Bram menanggapi kata terakhir dari sang ibu.

“Iiiya… nak, penismu ini oleh Yang Maha Pencipta sudah merancangnya untuk memasuki vagina seorang cewek dan… membantunya bisa… hamil dan membuat seorang anak bayi baru… ”, terlepas juga perkataan itu dari mulut Cantika yang bergidik oleh ucapannya sendiri itu. Dia sungguh merasa nyaman dengan keadaan mereka berdua sekarang.

“OK, aku akan mencobanya…”, kata Bram ragu. “Aku sebenarnya belum pernah melihatnya… tubuh seorang cewek telanjang sesungguhnya! Memang sih pernah melihat gambar cewek telanjang di majalah…,” kata Bram mengaku pada ibunya.

Kelihatannya usahanya belum berhasil mencapai target… membuat Bram ejakulasi, tapi Cantika tak akan berhenti berusaha… untuk menolong anak semata wayangnya yang tersayang…

“Setidaknya mama masih ada satu cara… yang ampuh mama pikir…

tapi… apakah perlu mama melakukannya…? ”, Cantika menggeliatkan badannya tanpa sadar. Puting buah dadanya menonjol mendesak gaun malamnya yang tipis memang Cantika kalau dirumah tidak pernah memakai BH, tak pelak lagi keberadaan bersama anaknya itu mempunyai efek padanya. Sedang tangan Cantika masih tetap mengocok-ngocok penis anaknya mulai berasa sangat pegal.

“Mam… aku tak perduli… apapun yang ingin mama perbuat… aku senang… mama mencoba membantuku…”.

Belum juga tuntas omongan Bram… Cantika menunduk dan langsung memasukkan palkon Bram kedalam mulutnya, menjilat dan mengenyot pelan palkon anaknya itu. Kelihatan sekali Cantika sungguh menikmati apa yang sedang dilakukannya itu, dia gemar melakukan BJ (Blow Job)… juga padaku dalam kegiatan seks kami.

Buah dada Cantika yang sebelah kiri tanpa disadarinya telah bebas… lepas dari balutan baju malamnya, putingnya yang sudah mengeras itu menyapu lembut kulit paha kirinya Bram… Kepala Cantika mulai mengayun naik-turun pas diujung palkon yang masih tegak berdiri, mulutnya hanya mampu memuat setengah dari batang penis Bram yang panjang.

Bram semakin merasa nyaman saja, ini pengalaman yang sama sekali baru baginya, sensasi ini membuat napasnya megap-megap keenakan. “Ahhh… mam… sungguh enak sekali rasanya… please… jangan berhenti… ohhh… mama!”

Cantika melayani keinginan anaknya terus melakukan BJ pertama untuknya dan menggenggam dan mengocok pada setengah bagian batang penis yang tidak bisa masuk mulutnya.

Makin bertambah nikmat saja dirasakan Bram, napasnya menderu kencang, pinggulnya didorongnya keatas. Cantika ikut-ikutan mendesah, dirasakannya batang penis Bram yang berada didalam mulutnya berdenyut membesar… dia paham tak lama lagi, pasti… Bram eyakulasi!

Tiba-tiba Bram menggerung kencang, “Ohhh…! Mama…!” Seketika itu juga air maninya menyemprot keluar… membanjiri mulut ibunya.

Terteguk air mani anaknya, Cantika juga sengaja menyedot dan… tetap saja kepalanya turun-naik pada batang penis Bram yang besar sementara tangannya tidak henti-hentinya mengocok.

Sungguh satu adegan erotis apa yang kulihat lewat bukaan sedikit pintu kamar Bram, tak luput dari ‘pantauan’-ku barang sedetik pun!

Cantika menelan semua mani yang ada didalam mulutnya, orgasme yang dialami Bram mereda.

“Mam… itu rasanya lebih baik… aneh sekali tapi… sungguh enakkk sekaliii…! Aku merasa terlena… atau… apa ituuu… aku rasa ada sesuatu yang keluar dari penisku… apa itu… cairan putih… yang mama maksud?”, celoteh Bram.

“Ya…”, kata ibunya. “Itu peju… maksud mama itu spermamu, mama menelan semuanya… agar tidak berceceran kemana-mana mengotor tempat tidurmu…,” Cantika mengangguk, getaran anggukan ketika BJ masih saja terasa olehnya. “Kamu merasa nyaman sekarang?,” tanya Cantika pada anaknya.

“Ya”, jawab Bram sambil melihat kearah bawah, dilihatnya penisnya sudah agak melunak tinggal setengah ereksi. “Kupikir…

ya kupikir sekarang… kurasa lebih baik… terima kasih mam”.

Cantika berdiri, membenahi gaun malam yang tadi terbuka, berusaha menenangkan dirinya sesaat dan akan keluar dari kamar Bram.

Aku bergegas kembali kekamar, seperti biasa… berbaring sambil memegang buku bacaan.

Cantika masuk kamar kami dan naik ketempat tidur tanpa bicara, lalu menyelinap masuk kedalam selimut. Tubuhnya yang hangat merapat padaku, napasnya yang masih memburu masih bisa kudengar… rupanya isteriku ini masih terpengaruh oleh suasana dikamar Bram tadi. Agaknya dia merasa sangat bergairah dan bernafsu…

Tahu penisku sudah ‘siap’, dengan cepat Cantika menanggalkan gaun malam berikut CD-nya sekalian. Bertelanjang bulat, disingkapnya selimut kesamping dan menarik cepat celana komprangku beserta CD-ku.

Dengan sigap naik keatas tubuhku, mengangkangi aku dan memegang penisku yang langsung dilesakkan kedalam memeknya yang sudah basah dan licin blesss…

Cepat Cantika mengayun-ayunkan pinggulnya, gaya WOT-nya (Woman On Top) membawanya cepat pada orgasme-nya sendiri yang menyebabkan tubuhnya rubuh menindih tubuhku.

Penisku yang masih tegang masih tetap berada didalam memeknya yang nikmat kurasa karena masih saja berdenyut-denyut. Kudiamkan sesaat lalu kubalikkan tubuh Cantika dan…

Hari semakin larut malam, tuntas sudah persenggamaan kami. Cantika mengalami 3 kali orgasme sebelum aku menyemprotkan spermaku jauh kedalam rahimnya… mudah-mudahan Bram mendapat adik baru…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *