Merindukan Sang Ayah

Merindukan Sang Ayah

Akibat Meninggalnya Sang Ayah

Cerita Dewasa Merindukan Sang Ayah – David, adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku padaku.. 18 tahun yang lalu. aku tinggal bertiga bersama kakak perempuanku Cahaya dan ibuku Endah setelah meninggalnya ayahku 1 tahun lalu.

Sebelum kepergian ayahku, kehidupan kami sebagai keluarga berjalan normal. tapi setelah itu semuanya menjadi berubah. ibuku sekarang bekerja, menggantikan posisi ayah sebagai pencari nafkah keluarga kecilku.

Kakakku Cahaya yang sekarang berusia 19 tahun membantunya dengan berjualan baju di internet. hasilnya cukup lumayan, setidaknya bisa mencukupi biayanya kuliah.

Hari-hari berlalu hingga saat ini adalah semester terakhirku di SMA. sebagai anak SMA aku dikenal sebagai pribadi yang penyendiri, jarang bergaul dan bersosialisasi. kebiasaanku saat pulang sekolah adalah pergi ke perpustakaan dan meminjam beberapa novel untuk kubaca dirumah. yah… cari hiburan pikirku.

Portaldewasa.com Cahaya juga tidak jauh berbeda, sepulangnya dari kampus yang dia kerjakan adalah duduk di depan komputernya berjam-jam mengecek iklan bajunya dan sesekali menelpon pelanggan yang memesan. tak heran di usianya yang baru 19 tahun Cahaya sudah memakai kacamata.

Dalam usia yang sudah menginjak 19 tahun rasanya aneh jika perempuan secantik Cahaya tidak pernah keluar dengan lawan jenisnya pada malam minggu.

Hari itu sangat ku ingat dalam benakku. hari senin, aku pulang dari sekolahku. kuparkir motorku di pekarangan rumah dan segera ku gembok pagarnya. kubuka pintu rumah dengan tangan kananku sementara tangan kiriku menggenggam buku novel setebal 560 halaman. Cahaya yang berada di ruang tengah segera menghampiriku.

“kamu baru pulang Tom..??” tanyanya

“iya kak, ada apa kok tumben tanya-tanya?”

“mama hari ini ngak kerja Tom, dari tadi mama di kamar belum makan. aku udah bujuk supaya mama makan… tapi katanya nunggu kamu. coba kamu ajak mama makan, kasihan nanti mama sakit”.

ada yang aneh pikirku, biasanya hari senin mama justru pulang malam. tapi tiba-tiba dia tidak masuk kerja hari ini. segera kuhampiri mama di kamarnya.

mama sedang tertidur di kamarnya berselimutkan bed cover yang tebal. mungkin karena suhu AC terlalu dingin. segera ku ambil remote AC dan ku naikkan beberapa derajat.

“mam… kok mama belum makan…” tanyaku

“ohh kamu sudah pulang Tom.. yuk kita makan. kamu ganti baju dulu” pintanya

“ganti baju? memang kita mau kemana mam?”

“hari ini mama cuti, kita akan ziarah ke makam ayah” katanya

“oke mam…”

segera ku bergegas ke kamarku, ketika kulewati ruang tengah ku katakan pada Cahaya untuk segera mengganti bajunya juga karena kami akan ziarah ke makam ayah.

tak lama kamipun berangkat. aku menyetir mobil, sedangkan Cahaya dan mama dibelakang.

baru ku ingat bahwa hari ini adalah tepat satu tahun ayah meninggal. pantas mama agak murung hari ini.

sesampainya di makam kami berjongkok mengelilingi makam. menabur bunga dan berdoa untuk ayah, agar ayah mendapatkan tempat yang baik di sisi yang maha kuasa.

tak berselang lama kamipun pulang. mama segera masuk kembali ke kamarnya, aku dan Cahaya di ruang tengah menonton TV

“tumben komputernya gak dilihat…” tanyaku

“blom ada yg sms sih, lagian aku capek.. pijitin pundakku dong Tom” pintanya

“yeeee… aku sendiri capek nyetir mobil”

“ya nanti gantian” katanya sembari tersenyum lebar

kuturuti permintaannya, ku suruh dia duduk di lantai, sementara aku di sofa. sehingga aku dengan mudah bisa memijit pundak dan bahunya. cukup lama ku pijit pundaknya. setengah jam berlalu lalu kami berganti posisi.

“Tom.. mama kok ngurung diri di kamar, ada apa ya” tanyanya sembari memijatku. aku hanya mengangkat bahu menyatakan ketidak tahuanku.

“nanti abis ini kita tengok yuk ke kamar mama…“ajaknya.

aku hanya mengangguk sambil menikmati pijitannya di bahuku. tangannya cukup lembut karena memang dia jarang melakukan pekerjaan yang berat mungkin.

tak lama kami berjalan menuju kamar mama. baru ingin ku ketuk pintu kamarnya, Cahaya mencegahku. “Stttt… diam” bisiknya… “kenapa??” akupun berbisik.

“coba dengar deh” kata Cahaya

Aku dan Cahaya menempelkan telinga kami dengan posisi wajah kami berhadapan.. kurasakan dengan jelas hembusan nafas Cahaya di wajahku. dari dalam kami mendengar mama merintih, sepertinya dia sedang menangis. tapi kemudian dia mendesah… Aku dan Cahaya berpandangan satu sama lain sambil mengerutkan dahi.

“masa sih mama masturbasi…” bisik Cahaya.

“hus… kamu ada-ada aja kak..” kataku

“siapa diluar..?? Nay.. Tom… kalian di luar” tanya mama dari dalam kamarnya.

“iya mam.. boleh kami masuk…” kata Cahaya.

Tanpa di persilahkan kamipun membuka pintu kamar…

Kami bertiga terbelalak nyaris bersamaan, ketika kami melihat mama berada di ranjangnya tanpa busana sambil memegang sebatang dildo yang terbenam di vaginanya.

Wajah mama memerah. Kamipun terdiam.

 

BACA JUGA : FANTASY KAKAK KANDUNG

 

“kalian main masuk-masuk aja gak nunggu mama bilang iya” kata mama

“mmm.. mmma.. af mam… kami gak tau..” kata Cahaya

Mama menarik bed covernya menutupi tubuh mama sampai batas payudaranya.

“ya sudah gpp.. sini, ada apa?” tanya mama

Aku dan Cahaya melangkah menuju tempat tidurnya. Kami duduk mengapit mama di tengah. Aku di kanan dan Cahaya di kiri.

“mama kok masturbasi…?” tanya Cahaya. Mama terdiam. Tertunduk, ku pandangi matanya berkaca-kaca.

“mama kangen sama ayah kalian…” Ucapnya lirih.

Kami bertiga tertegun mendengar apa yang diucapkan mama. Aku dan Cahaya langsung memeluk perut mama, dan bersandar di bahunya. Berharap dapat menenangkan sedikit perasaan rindu karena telah di tinggalkan pasangan hidupnya.

“mama kan masi punya kita mah…” Ucapku sembari tersenyum.

“bener tuh ma kata David… masa mama tega. Nanti papa ngeliat jadi sedih loh…” kata Cahaya

Titik-titik air mata kembali jatuh membasahi pipi mama. Mama merangkul kami berdua dan berkata

“terima kasih ya sayang.. kalian memang anak mama…” ucapnya

Aku dan Cahaya langsung mencium pipi mama dari kanan dan kiri. Mama pun tersenyum dan membalas mencium pipi kami. Cahaya memeluk mama dan tidak sengaja menyentuh payudaranya yang masih mekar. Tak sengaja tersentuh olehnya putting mama yang masih mengeras. Cahaya tersenyum dan berkata.

“mah… ga di terusin lagi masturbasinya??” kata Cahaya.

“haha… oh iya mama beli dildo dimana…??” tanyaku.

Mama hanya tersenyum saja.

“di toko peralatan sex lah…” Ucapnya dengan tersenyum lebar.

“mau di bantuin gak mah sama kita masturbasinya” kata Cahaya

“hus… jangan ahh mama malu sama kalian…” Ucapnya sambil menyeka air mata yang tersisa di pipinya.

Aku tersentak mendengar ucapan Cahaya. Jangan-jangan Cahaya sudah tidak virgin lagi.

“emang kamu pernah masturbasi juga Nay…?” tanya mama

Cahaya menggelengkan kepala.

“makanya ajarin dong mah… Enak ga sih masturbasi…” ucap Cahaya

Edann.. pikirku. Apakah kakakku ini sudah tidak waras. Kalau dia masturbasi kan bisa-bisa perawannya hilang.

“eh… Kakak nanti perawannya hilang loh…” Kataku

“mendingan perawan hilang sendiri dibanding diambil sama lelaki bejat” ucapnya

“iya sih… tapi kan sayang aja, cewe secantik kakakku ini keperawanannya ilang”

Pipiku kiriku dicubit olehnya. Agak kencang sampai aku mengaduh.

“tuh kan mah… lelaki bisanya gombal…” Kata Cahaya

“tapi memang betul loh Nay kata David.. kamu kan cantik, sexy, pasti banyak cowo yg mau sama kamu” kata mama.

“iya mah.. banyak.. tapi rata-rata paling lama seminggu setelah di tolak mereka jadian sama cewe lain. Cowo macam apa itu… Cahaya maunya cowo yang ngotot ngejar-ngejar Cahaya berbulan-bulan. Baru Cahaya terima jadi pacar”

“nah kalo begitu aku setuju kak…” kataku sambil mengacungkan jempol.

“kalian mau nenen ga… kaya waktu kecil dulu…?” kata mama sambil membuka bed cover yang menutupi dadanya. Saat itu terpampang dengan jelas dada mama yang besar. Putingnya yang berwarna kemerahan mengacung ke depan. Mamaku memang cukup rajin berolah raga, tak heran badannya masih kencang di usianya yang sudah 45 tahun.

Aku dan Cahaya tidak menjawab apapun sambil langsung mengulum kedua puting mama.

“Ahh…” desahnya pelan ketika kami menghisap putingnya. Sesekali kuhisap dengan kuat dan kumainkan putingnya dengan lidahku. “Ohh… sayang…” Mama menggeliat dan menekan kepala kami berdua makin kuat ke dadanya.

Cahaya memulai aksinya dengan mengelus perut mama, turun ke selangkangannya. Dimana tumbuh bulu-bulu yang tipis disana. Diusapnya belahan vagina mama. Tepat di klitorisnya.

“Mmmmpph… Ohh…” Mama kembali mengeliang.

Kulepas isapanku di payudaranya dan kucium bibir mama. Mama membalas ciumanku dengan beringas. Tampak nafsu birahi mulai menguasainya. Maka kumainkan putingnya dengan jariku.. kupilin dan kutarik.

Mama tidak tinggal diam menerima perlakuan kami. Dengan sebelah tangan dia perlahan membuka kancing baju kami satu persatu. Bedcover pun di dorongnya hingga jatuh dari ranjang.

Cahaya yang kancing bajunya sudah terlepas, menghentikan aksinya mengusap klitoris mama untuk melepas pakaiannya.

Oh man… kini di pandanganku telah ada dua wanita cantik sudah tidak berbusana.

Aku pun melepaskan seluruh pakaianku dan kembai mencium mama sambil memainkan putingnya.

Mama meraba tubuhku mencari penisku yang sedaritadi telah mengeras. Di remasnya batang kejantananku sampai-sampai aku bergetar. Seumur hidup penisku belum pernah di sentuh oleh seorang wanita. Kini mamaku sendiri yang menyentuhnya. Tangan kanan mama juga mengusap klitoris Cahaya. Menyebabkan Cahaya menggumam sambil terus mengisap payudara mama.

“Oh… mah… geli mah…” kataku sambil melepaskan ciumanku darinya.

Ciuman mama turun ke leherku, dadaku, dan mengisap putingku. Oh my god… Sensasinya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.

Tubuh mama mulai menggeliat tidak karuan menerima usapan pada klitorisnya. Tak lama lagi ia mencapai klimaksnya. “Oh… Terus sayang… Mama sebentar lagi sampai… Ahhhh… Ah…”

Melihat mama hampir mencapai klimaksnya aku langsung mengisap kembali putting mama. Di tekannya kepalaku hingga aku sulit bernafas.

“Aaa…” jeritan mama tertahan. “Ouuuhhhh…” Mama melenguh panjang tanda ia sudah mencapai orgasmenya yang pertama.

Mama terkulai lemas setelah orgasmenya yang pertama. Namun aku dan Cahaya tidak melepas kulumanku dari putingnya. Diusapnya kepala kami berdua lalu berkata.

“kok nenennya masih lanjut sayang…?”

“abis udah lama ga nenen sama mama… David kangen mah…” Kataku sambil tersenyum.

“kok toket mama gede banget sih ma. Punya Cahaya gak segede ini..” kata Cahaya sambil mengelus payudara mama.

“ya kan karena sering di remas-remas sama ayahmu…” kata mama

“ah masa sih ma.. Cuma karena sering di remas-remas doang???”

“di remas, di isap, ya pokoknya di beri rangsangan sayang…”

“mah… isepin toket Cahaya dong mah… biar gede kaya mamah…” pinta Cahaya seraya bangkit dan menyodorkan putingnya ke wajah mama. Kupikir benar juga ya. Payudara mama ukurannya cukup spesial. Besar, kencang, mengacung, padat. Mungkin memang benar bahwa payudara wanita harus sering di beri rangsangan.

Mama kemudian mengulum lembut puting Cahaya. Melihat mimik wajahnya, tampak Cahaya sangat menikmatinya. Tak sampai di situ, tangan mama mengusap lembut payudara lainnya hingga putingnya ikut menegang. “Sssshhh…” Cahaya mendesah. Diusapnya klitoris Cahaya dengan lembut. Pelan tapi pasti mama mulai menaikkan temo permainannya.

“aku mau juga dong kak… isep punya kakak…” pintaku.

Cahaya mengulurkan tangannya ke leherku dan menarik wajahku mendekati payudaranya. Kuhisap payudara Cahaya dengan perlahan. Tampak nafsu birahi Cahaya mulai memuncak. Ia menggoyang-goyangkan pinggulnya maju mundur agar usapan di klitorisnya makin cepat. Mama menyadari itu dan mempercepat usapan di klitoris Cahaya.

Tampak mama juga mulai di bakar nafsu. Tangannya yang tadi dipakai meremas payudara Cahaya kini telah berpindah ke klitorisnya sendiri. Aku yang melihat itu tanpa dikomando segera menyusupkan tanganku di selangkangan mama. Memasukkan dua jariku ke dalam vaginanya.

“Uhhh… m… mah… udah mah… Cahaya mau ke k… kamar.. mandi… Nay.. Cahaya mau… pi… pisss”

“pipis di sini aja gpp sayang…” kata mama. Mama sudah tau bahwa itu adalah tanda Cahaya akan mencapai orgasme. Di percepat usapannya sambil sedikit menekan vaginanya.

“Ahhhhh… mahhh…” lenguhnya ketika orgasme itu datang. Menghampiri Cahaya untuk pertama kalinya. Tampaknya Cahaya tidak kuasa membendung luapan energi yang terjadi ketika ia orgasme. Ia kini terkulai lemas di sebelah mama.

“mah.. spreinya basah ya… Cahaya kayanya tadi pipis…”

“ngak sayang.. itu tadi yang namanya orgasme..” kata mama

“enak banget mah…” Ucap naya seraya tersenyum dan memejamkan matanya.

Mama masih asyik dengan klitorisnya yang sejak tadi ia usap.

“Tom… mau gak jilatin memek mama…?” pinta mama.

“sini mah.. mama buka yang lebar” aku pun mengatur posisi. Mendekatkan wajahku ke arah vagina mama. Aroma vagina perempuan itu sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas au menyukainya.

Mama melepaskan tangan dari klitorisnya dan membimbing wajahku menuju kesana. Kujilat klitorisnya dengan perlahan. Reaksinya sungguh diluar dugaan. Mama mengeliang dengan liarnya. Di tekannya kepalaku dengan sebelah tangan, seakan tidak ingin melepaskan jilatanku pada klitorisnya.

Kumasukkan kembali dua jariku kedalam liang vaginanya. Tubuh mama menegang. Kuat sekali.

Cahaya yang berada di sampingnya kembali bangkit dan mengisap serta meremas payudara mama. Nafsu mama semakin menjadi-jadi.

“Terus sayang… hmmph… enakk… Ahhh… Ahhh…” desahnya

“udah mau orgasme lagi ya mah…?” tanya Cahaya. Mama hanya mengangguk.

Ku percepat gerakan mengocok pada vagina mama. tiba-tiba kedua kaki mama menekan kepalaku dengan kuat ke arah vaginanya. “seben… tar… lagi sa… yanggg… Ahhhhhh… Ahhhhh…” ceracaunya.

“Ohhhhh… Ahhhh…” Orgasme mama tercapai seiring dengan lenguhan panjangnya. Cairan kewanitaannya menyembur dengan deras ke wajahku. Rasanya agak Asin, tapi tidak seperti air garam. Kubersihkan selangkangan mama dengan lidahku.

Mama terkulai lemas untuk kedua kalinya. Ditariknya tubuhku ke sebelah Cahaya.

“Duduk sini sayang… mama mau isepin punya kamu…” kata mama

Aku pun bersimpuh di antara Cahaya dan mama. Kemudian mama meremas-remas penisku hingga menegang. Mama mendekat dan mulai mengisap penisku.

“Aaa… ahh… Enak mahh… Terus mahh…” kenikmatan yang saat ini kurasakan benar-benar tak bisa tergantikan. Cahaya kemudian mengambil posisi. Berlutut di depanku, sehingga payudaranya mengacung ke arah wajahku.

“Tom… isepin lagi tom… Enak tau di isepin kamu…” pintanya.

Segera kuturuti kemauannya sambil tanganku meremas payudara mama.

Cahaya mengusap-usap rambutku, menikmati jilatan dan gigitanku pada payudaranya.

Penisku yang sudah basah oleh liur mama kemudian dikocoknya. Jilatannya berpindah ke buah penisku.

Rangsangan itu begitu hebat kurasakan. Seakan kepalaku ingin meledak, tidak cukup menampung luapan birahi yang kurasakan. “Ahhh… mah… cepetin lagi kocokannya mah… Enak…” erangku.

(sfx: Crooooottt, crotttt)

Spermaku jatuh diwajah mama. menandakan orgasmeku sudah sampai. Rasa lelah tiba-tiba menghampiriku. Lemas, lelah entah dari mana rasa ini berasal. Seperti habis berlari pikirku. Akupun ikut terkulai lemas di ranjang itu. Mama dan Cahaya ikut merebahkan diri. Mengapitku yang berada di tengah.

Pandanganku terpaku pada langit-langit kamar itu. Perlahan tapi pasti, rasa kantuk mulai menyerangku. Kelopak matakupun sudah tidak mampu lagi kutopang dengan sisa tenagaku. Saat mama dan Cahaya memelukku, saat itulah aku terpejam..

PORTAL DEWASA

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *