Bercinta Dengan Anak Tiri

Bercinta Dengan Anak Tiri

Cerita Portal Dewasa – Di usia empat puluh tahun, ia seharusnya sudah menemukan kedamaian, rumah besar, suami yang sibuk, dan status istri yang disegani Tapi malam-malam sunyi itu justru membukakan pintu pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tiga anak tiri lelakinya-tinggi, berotot, penuh tenaga, dan masih dipenuhi api muda—mulai mengisi kekosongan yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Awalnya hanya tatapan sekilas, sentuhan tak sengaja di dapur, hembusan napas yang terlalu dekat saat lewat di koridor gelap. Tapi lambat laun, batas itu runtuh

Sekarang ia ketagihan. Ketagihan pada kekuatan tangan mereka yang mengangkat tubuhnya dengan mudah. Ketagihan pada desahan kasar yang memanggilnya “Bu”

dengan nada yang sama sekali tak sopan lagi. Ketagihan pada sensasi dikuasai tiga lelaki muda sekaligus, bergantian, bersama-sama, tanpa ampun—sampai tubuhnya gemetar lemas dan pikirannya kosong.

Ia tahu ini salah. Ia tahu ini bisa menghancurkan segalanya. Tapi setiap kali pintu kamar tertutup dan lampu dimatikan, ia tak lagi peduli.

Karena rasa ketagihan itu sudah lebih kuat daripada rasa bersalah. Dan malam ini… mereka akan datang lagi.

BACA JUGA : Dengan Istri Tetangga Ditengah Hamil 6 Bulan

Malam itu, hampir pukul sembilan, Gilang terperanjat ketika suaminya tiba-tiba pulang lebih cepat dari penugasan luar kota yang telah memisahkan mereka lebih dari seminggu. Wajah lelaki berusia 60 tahun itu memancarkan kegembiraan tak biasa, senyumnya seolah menyimpan sebuah cerita yang belum terucap.

“Ada apa, Bang? Senyum terus. aku jadi curiga, lho,” ujar Gilang sedikit manja.

“Ada kejutan yang tidak biasa, khusus buatmu,” balas suaminya, suaranya lembut sekaligus penuh rahasia.

Gilang mengangkat alis, separuh heran, separuh gemas. “Kejutan apa sih, Bang?”

“Yang akan membuatmu bisa menyalurkan hasrat kerinduan dengan lebih baik, lebih tenang dan lebih dahsyat,” katanya sedikit mendesah, sebelum merangkul istrinya dalam pelukan hangat yang langsung menuntaskan sebagian rindu yang mengendap dengan menciuminya.

Mereka tertawa kecil, saling melepas jarak yang tertumpuk selama hari-hari terpisah itu. Setelah beberapa saat, suaminya menuntun Gilang menuju kamar mereka. Setibanya disana, ia mengeluarkan sesuatu dari tas besarnya. Sebuah benda, dibungkus rapi, diserahkan dengan gerak yang penuh pertimbangan.

Gilang terpaku. Ada sesuatu dalam cara suaminya memandang, seakan ia sedang menawarkan lebih dari sekadar hadiah; sebuah kepercayaan, mungkin keberanian untuk membuka percakapan yang selama ini hanya berputar di benak mereka.

“Ini… apa, Bang?” tanyanya pelan.

Khusus untukmu,” jawab suaminya singkat, namun lembut.

Gilang menatap benda itu, lalu menatap suaminya, merasakan campuran haru, malu, dan kehangatan yang meluap bersamaan. Ia menangkap niat baik di balik hadiah itu. Sesuatu yang tidak perlu dijelaskan panjang-lebar, namun ia mengerti arti dan keberanian yang menyertainya.

“Bang… kenapa repot-repot beli yang beginian?” bisiknya, senyumnya muncul tanpa bisa ia tahan.

Suaminya hanya mengusap lembut punggung tangannya. “Papa ingin kamu bahagia. Sesederhana itu.”

“Ini dildo kan?” tanya Gilang setengah tak sadar sekedar untuk memastikan.

“Yes!” jawab suaminya pelan sambil tetap terus menyodorkan benda itu, memaksa Gilang untuk segera menerimanya.

Gilang masih tertegun, tak menduga bahkan masih tak percaya, jika suaminya yang oleh sebagian orang dipanggil Pak Haji, bisa-bisanya memberi hadiah pada istrinya berupa benda yang tak biasa cenderung tak senonoh.

Dengan agak ragu-ragu, Gilang pun lantas menerimanya dan ia rasakan teksturnya benar benar sangat kenyal walau agak dingin. rudal imitasi itu ukurannya jauh lebih besar dan panjang jika dibandingkan dengan milik suaminya. Tentu saja kenyal dan kerasnya pun sangat beda.

“Ini buat apa sih, Bang?” tanya Gilang pura-pura polos. Kulit wajahnya semakin terasa panas karena malu dengan kekurangajaran tangannya yang secara tak sadar meremas-remas benda kenyal itu untuk sekadar merasakan tekstur dan kekenyalannya.

Suaminya tetap tersenyum, tidak menjawab pertanyaan istrinya, malah melepas pakaian Gilang dengan sangat pelan hingga istrinya benar-benar telanjang bulat. Sementara suaminya tetap mengenakan pakaiannya. Gilang lalu diminta rebahan di atas kasur sambal membuka lebar kedua kakinya. Hal yang tak pernah diminta suaminya sebelum ini.

Dengan lembut suaminya menyentuh area paling sensitifnya itu, membuat Gilang tersentak kaget sekaligus penasaran. Sejak kapan suaminya berani mengeksplorasi bagian tubuh yang jarang dia sentuh? Namun, Gilang menyerah pada gelombang kenikmatan lama yang hilang, memejamkan mata sambil menikmatinya sepenuh hati.

Setelah kelembapan alami muncul, suaminya perlahan memasukkan ujung kepala dildo itu berukuran besar dan panjang itu ke dalam diri istrinya, sekitar setengahnya.

“Maas…” desah Gilang tertahan, tubuhnya menggeliat malu-malu karena sensasi yang begitu menggoda. Bentuknya yang gagah memenuhi setiap sudut dengan sempurna, bahkan menyentuh titik terdalam saat didorong masuk hampir seluruhnya.

“Gimana, nyaman dan nikmat kan, Sayang?” tanya suaminya sambil menariknya pelan lalu mendorong kembali. Gilang hanya mengangguk kecil, rintihannya lirih karena pikiran campur aduk antara malu, kebingungan, dan gelora yang mendominasi.

Suaminya terus memainkan dildo itu dalam ritme halus, masuk lebih dalam, berputar lembut, lalu hampir keluar, membuat desahan Gilang semakin nyaring, nyaris seperti jeritan saat gerakannya semakin intens.

“Coba kamu pegang sendiri,” bisik suaminya, menyerahkan kendali tanpa mencabutnya, sambil melepas pakaiannya sendiri.

Suaminya kembali mengambil alih, sambil mencium dan membelai payudaranya bergantian, serta membimbing tangan Gilang ke kejantanan miliknya yang tegang, meski lebih mungil, lebih lembek dan ini sesuatu yang teramat baru bagi keduanya.

Saat Gilang hampir mencapai puncak, suaminya cepat mengganti dildo itu dengan rudal aslinya. Sensasi berubah mendadak, ruang terasa lebih longgar, tapi gerakannya yang lincah dan penuh semangat segera membangkitkan kembali api yang cukup lama nyaris padam.

“Ooooo Maaas….” lenguh Gilang tak tertahankan saat dalam hitungan berikutnya ia orgasme yang teramat dahsyat, diikuti ejakulasi suaminya dengan ledakan yang melimpah. Keringat membasahi seprai mereka, sesuatu yang pertama kalinya terjadi.

Napas mereka mereda, suaminya berbisik, “Sayang nyaman dan nikmat kan? Kalau Mas tak di rumah dan kamu butuh, gunakan saja itu untuk memuaskan diri. Abang rela, asal jangan ke
orang lain, itu haram.”

“Iya, Bang,” jawab Gilang pelan, matanya sayu berat. “Nyaman kok,” tambahnya dengan anggukan saat dipeluk erat. Suaminya mencium pipi dan keningnya lembut.

“Tapi kenapa ukurannya sebesar itu? Kayaknya salah ukuran deh, Bang.” gumam Gilang halus, sebenarnya ingin bilang agar disesuaikan dengan milik suaminya.

“Tidak salah, Sengaja Abang pilih yang lebih besar dan panjang, biar kamu merasakan sensasi luar biasa dan puas maksimal, terutama saat sendirian,” jawabnya yakin, tanpa ragu.

“Tapi kenapa Abang bisa punya pemikiran sejauh itu?” tanya Gilang sambil menatap dalam kedua mata suaminya. Ada kilau aneh di sana, semacam semangat baru yang selama ini jarang tampak.

Suaminya menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Abang juga bingung. Tapi ini sebenarnya berawal dari obrolan beberapa rekan. Mereka banyak yang memberikan dilso pada istrinya. Katanya supaya istri tidak merasa kesepian saat ditinggal suami. Biar rumah tangga mereka tetap aman.”

Gilang mengernyit halus. “Memangnya mereka yakin istri-istrinya itu tidak menyimpang hanya karena diberi begituan? Atau malah mereka menuduh istrinya akan menyimpang kalau tidak diberi?”

“Ya, mungkin itu cara mereka mencari rasa aman, Sayang.” Suaminya mencoba terdengar meyakinkan, meski suaranya menyimpan ragu. “Sudah Dewasa“

“Aku rasa itu cara berpikir yang terlalu jauh, Bang,” ujar Gilang lembut. “Selama ini aku tidak pernah macam-macam walau tidak punya apa pun, kecuali kamu.”

Suaminya mengangguk pelan. “Abang tahu. Tapi juga banyak dengar kalau masalah rumah tangga muncul karena kebutuhan batin tidak terpenuhi. Abang merasa sering tidak maksimal karena sering tugas keluar kota. Jadi cuma… ikut cara mereka. Supaya kamu tetap merasa dicintai.”

Gilang menatapnya lebih lama. “Lalu Abang sendiri kalau lagi dinas gimana? Apa tidak pernah goyah untuk mencari wanita lain?”

Suaminya terkesiap kecil. “Astaghfirullah, tentu tidak. Abang sudah janji pada dirimu sejak awal, tidak akan main-main soal itu. Sejauh ini bisa menjaga diri.”

“Itu sama saja dengan aku, Bang,” jawab Gilang tenang. “Tanpa bantuan dildo, aku juga mampu menjaga diri.”

BACA JUGA : Dientot Supirku yang Perkasa

Suaminya tersenyum, sedikit malu. “Iya, Abang percaya. Abang cuma ingin jaga-jaga kalua suatu waktu kamu merasa tidak kuat menunggu. Dan… Abang lihat kamu tampaknya menikmati persetubuhan tadi, hehehe.” Godaannya terdengar ringan, meski membuat Gilang tersentak.

“Abangggg!” Gilang memukul lengannya pelan sambil menahan rasa malu.

“Gak apa-apa,” ucap suaminya sambil menenangkan. “Manusia wajar ingin merasa terpenuhi. Itu normal.”

Gilang mengembuskan napas, masih heran. “Abang kok jadi tahu banyak hal yang tidak pernah Abang pedulikan sebelumnya.”

Suaminya tertawa lirih. “Namanya juga sering dengar obrolan orang. Ternyata banyak pasangan menemukan cara sendiri untuk saling menenangkan. Abang jadi ikut kepikiran begitu. Terlebih lagi Abang kan memang sudah tidak seperkasa dulu…”

Gilang mendekat, bersandar di bahunya. “Tapi bagiku, yang terpenting dirimu tetap ada. Selama ini aku sudah merasa cukup.”

Suaminya merangkulnya lembut. “Iya. Dan semua ini sebenarnya hanya Abang lakukan sebagai langkah tambahan, bukan pengganti apa pun. Kalau kamu merasa tak perlu, ya tidak usah dipakai. Abang cuma tidak mau kamu tersakiti karena Abang sering tidak hadir sepenuhnya.”

Gilang membalas pelukannya, suaranya merendah. “Dari awal kita sepakat, yang terpenting adalah kedekatan hati. Yang lain hanya pelengkap. Dan sejauh ini kita selalu baik-baik saja.”

Suaminya mengecup kening Gilang penuh kehangatan, seakan ingin menutup percakapan itu dengan sesuatu yang lebih lembut daripada kata-kata.

Namun jauh di sudut hatinya, Gilang masih merasa ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Ia memilih diam, membiarkan malam bergerak pelan seperti tirai tipis yang menutup ruang penuh tanda tanya.

Hari-hari selanjutnya, dildo pemberian suaminya itu bukan hanya menjadi peneman saat ia ditinggal tugas, tetapi malah berubah menjadi bagian dari kebiasaan baru ketika suaminya pulang Entah mengapa suaminya jadi bersemangat saat membantu Gilang mencapai puncak dengan bantuan dildo dan miliknya..

Suaminya seolah menghadirkan perubahan dan nuanasa baru dalam hubungan intim mereka, menghadirkan sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan muncul dalam rumah tangga yang sudah berjalan dengan pola yang nyaris baku. Baik walau wakatunya relatif masih baru, sekitar empat tahun.

Beberapa kali Gilang mencoba mengingatkannya agar mereka tetap menjaga batas-batas tertentu, terlebih mengingat citra suaminya sebagai sosok yang dikenal religius. Kadang ia menolak secara halus, tetapi suaminya selalu datang dengan cara yang menenangkan, membawa alasan dan rayuan yang membuat keberatan Gilang perlahan mereda.

Namun semua itu ternyata tidak bertahan lama. Perlahan, semangat yang dulu menggebu mulai meredup. Gilang pun merasakan kejenuhan yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Suaminya, yang sebelumnya begitu antusias, mulai tampak kehabisan arah, seakan upayanya untuk memperbarui kedekatan itu justru membuatnya lelah.

Pada akhirnya, dildo itu ditinggalkan dan Gilang membuang tanpa banyak kata. Kehidupan ranjang mereka kembali seperti semula, bahkan mulai lebih hambar, seolah jejak perubahan singkat itu malah menyisakan rongga yang tidak mudah diisi kembali. Sudah hampir setahun mereka bahkan nyaris tak pernah melakukannya lagi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *